![]() |
| masjid Islamic Center Tarakan |
Cukup lama berbincang-bincang. Selain teman kuliah di Jakarta, juga baru pertama kali bisa ketemu di Tarakan. Ia mempunyai jadwal yang cukup padat. Bahkan menawarkan untuk ikut mengisi dan menggantikan jadwal beliau. Karena kami juga belum tahu jadwal kami sendiri, untuk sementara kami belum menyanggupi.
Setelah agak sore, berkeliling di Tarakan. Banyak masjid-masjid berdiri megah. Selain Islamic Center, juga masjid tua yang bernama Masjid Nurul Islam.
![]() |
| masjid tua Nurul Islam Pamusian |
Dari dekat kita akan melihat sebuah
bangunan berkubah yang bertuliskan ‘Masjid Nurul Islam’. Masjid tersebut
dibangun diatas lahan hibah dari warga keturunan Tionghoa kepada
masyarakat Markoni pada saat itu. Tepatnya pada tahun 1904, seorang
keturunan Tionghoa menghibahkan tanah berukuran 20 x 20 meter kepada
masyarakat sekitar. Oleh warga, tanah pemberian tersebut direncanakan
akan dibangun sebuah masjid dengan dana swadaya.
![]() |
| masjid Darus Sa'adah |
Saat Isya', shalat Isya' di masjid Darus Sa'adah, Tarakan. Masjid ini, menurut teman yang mengantar, masjid teramai di Tarakan setelah masjid tua Nurul Islam tersebut. Ketika kami shalat, jama'ah cukup banyak. Bahkan meluber sampai teras dan halaman.
Yang lebih menarik, sepanjang pengamatan dan pendengaran di berbagai masjid yang kami lewati, suara bacaan para imam cukup merdu dan enak. Padahal, dari Solo, kami tidak memiliki bekal bacaan yang merdu. Tapi, dengan niat berdakwah, mudah-mudahan ada sisi lain yang menjadikan masyarakat tertarik dengan dakwah kita.
.jpg)
.jpg)
.jpg)