| Ust. Hasan Mursito, bawa kamera tengah |
Perjalanan dakwah dari Tarakan masih ditempuh dengan naik speatboat selama 2 jam turun di Nunukan. Dari Nunukan melanjutkan lagi perjalanan darat menuju tempat tugas selama 50 menit. Kanan kiri jalan masih alami. Ditumbuhi dengan pohon-pohon hutan. Hamparan laut juga masih terlihat dengan jelasnya.
"Di tempat tugas, ternyata jauh dari perkiraan saya semula. Saya kira awalnya masyarakatnya masih awam tentang dien. Ternyata mereka sangat paham dienul Islam", ungkapnya mengawali kisah perjalanan dakwah di Pulau Sebatik, Kalimantan Utara.
"Bacaan imam sangat merdu. Bahkan dari anak-anak kecil sudah diajari membaca Al Qur'an dengan tartil. Saya nggak berani jadi Imam", kisahnya. "Selain itu, disini banyak lulusan pondok, ada dari Persis lebih dari 10 orang, berbagai kelompok harokah dan lainnya. Makanya, masjid Darussalam ini kadang disebut juga sebagai masjid Mujahidin", ungkapnya.
"Saya disini seperti 'nguyahi segoro'. Ungkapnya agak kurang percaya diri. Kemudian dia menuturkan pernah suatu ketika dia adzan Subuh. Ketika tiba bacaan 'Assholatu khoirum minan naum', kata 'naum' nya ia baca panjang, dia langsung ditegur. "Jangan marah ya kalau diingatkan", ungkap salah seorang jamaah. Kami langsung menjawab, "Nggak apa-apa, saya dari Jawa siap untuk ditegur dan diperbaiki. Niat kami kesini untuk berdakwah, sehingga kalau ada kesalahan dan kekeliruan, kami siap untuk dibenarkan", katanya.
Ust. Hasan begitu teman-teman biasa memanggil, mengisahkan sekarang dia banyak mengajak anak-anak dan remaja. Ketika kultum pun, ada yang berbeda dengan di Jawa. Tidak boleh kultum sebelum jamaah diam, baik remaja maupun anak-anak. Bahkan saat ia meminta agar dicarikan masjid lain yang lebih awam masyarakatnya, ternyata juga belum diperkenankan. Akhirnya, dengan niat karena Allah menyebarkan risalah Islam, ia mantapkan hatinya untuk berdakwah di tempat tugas.