| Silaturahmi Antar Potensi Dakwah |
Silent Fighting Antar Potensi Dakwah
Kami mengistilahkan silent
finghting dengan pertarungan senyap antar potensi dakwah. Walaupun
masing-masing memiliki basis sendiri. Melihat kota Tarakan yang kecil dengan
berbagai potensi yang besar, tak heran jika berbagai harokan Islam masuk.
Selain NU, Muhamadiyah, Hidayatullah, Wahdah, juga ada Salafi. Pola pemahaman
Ust. Aman Abdurrahman juga terdapat di sini.
Masing-masing tokoh saling mengenal karena daerahnya yang
kecil. Bahkan satu dengan lainnya juga mengetahui, apakah dari NU,
Muhammadiyah, Hidayatullah, Wahdah, Salafi bahkan dari model pengajian Ust.
Aman. Disinilah diam-diam terjadi pertarungan senyap untuk saling merebut
pengaruh dan mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya.
Hal yang menonjol mereka memiliki masjid sebagai basis
masing-masing. Baik NU disimbolnya dengan masjid Al Ma’arif atau Nurul Islam.
Muhamadiyah disimbolkan dengan masjid Al Amin. Hidayatullah di simbolkan dengan
masjid Jami’ Hidayatullah di Karungan. Wahdah dengan masjid At Tauhid, Salafi
dengan masjidnya sendiri, sementara model Ust. Aman berkelompok di masjid Nida’ul
Qital.
Karena model NU dan Muhamadiyah mayoritas, sedangkan mereka
minim dai, maka dai-dai Wahdah, Hidayatullah bisa masuk memberikan ceramah atau
pengajian. Sementara salafi cukup kaku, tidak jauh beda dengan model pengajian
Ust. Aman.
Peluang Dakwah dan
Pemuda
Peluang yang bisa diambil, baik Ramadhan maupun di luar
Ramadhan, jika sudah memiliki data dai yang mampu memberikan ceramah atau
pengajian, kita bisa menawarkan dai-dai tersebut untuk mendapatkan jadwal
rutin, baik mengisi kultum, pengajian maupun khutbah Jum’at.
Hal yang agak terlupakan, tidak jauh berbeda dengan di Jawa
adalah perhatian terhadap generasi muda, baik anak setingkat SMP maupun SMA.
Masing jarang yang mampu menembus generasi muda untuk mengadakan kajian
keislaman. Padahal mereka adalah potensi yang besar untuk menjaring kader
dakwah ke depan. Dengan kondisi orang tua yang mampan, pemuda-pemuda tersebut
banyak yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.