Catatan Dakwah di Tarakang (Bagian 6)



Silaturahmi Antar Potensi Dakwah

Silent Fighting Antar Potensi Dakwah
Kami mengistilahkan silent finghting dengan pertarungan senyap antar potensi dakwah. Walaupun masing-masing memiliki basis sendiri. Melihat kota Tarakan yang kecil dengan berbagai potensi yang besar, tak heran jika berbagai harokan Islam masuk. Selain NU, Muhamadiyah, Hidayatullah, Wahdah, juga ada Salafi. Pola pemahaman Ust. Aman Abdurrahman juga terdapat di sini.

Masing-masing tokoh saling mengenal karena daerahnya yang kecil. Bahkan satu dengan lainnya juga mengetahui, apakah dari NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Wahdah, Salafi bahkan dari model pengajian Ust. Aman. Disinilah diam-diam terjadi pertarungan senyap untuk saling merebut pengaruh dan mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya.

Hal yang menonjol mereka memiliki masjid sebagai basis masing-masing. Baik NU disimbolnya dengan masjid Al Ma’arif atau Nurul Islam. Muhamadiyah disimbolkan dengan masjid Al Amin. Hidayatullah di simbolkan dengan masjid Jami’ Hidayatullah di Karungan. Wahdah dengan masjid At Tauhid, Salafi dengan masjidnya sendiri, sementara model Ust. Aman berkelompok di masjid Nida’ul Qital.

Karena model NU dan Muhamadiyah mayoritas, sedangkan mereka minim dai, maka dai-dai Wahdah, Hidayatullah bisa masuk memberikan ceramah atau pengajian. Sementara salafi cukup kaku, tidak jauh beda dengan model pengajian Ust. Aman.

Peluang Dakwah dan Pemuda
Peluang yang bisa diambil, baik Ramadhan maupun di luar Ramadhan, jika sudah memiliki data dai yang mampu memberikan ceramah atau pengajian, kita bisa menawarkan dai-dai tersebut untuk mendapatkan jadwal rutin, baik mengisi kultum, pengajian maupun khutbah Jum’at.

Hal yang agak terlupakan, tidak jauh berbeda dengan di Jawa adalah perhatian terhadap generasi muda, baik anak setingkat SMP maupun SMA. Masing jarang yang mampu menembus generasi muda untuk mengadakan kajian keislaman. Padahal mereka adalah potensi yang besar untuk menjaring kader dakwah ke depan. Dengan kondisi orang tua yang mampan, pemuda-pemuda tersebut banyak yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.