 |
| Pedalaman Krayan |
Indonesia negara kepulauan. Banyak pulau-pulau kecil tersebar di Indonesia, termasuk yang ada di Kalimantan, khususnya Kalimantan Utara. Sentuhan dakwah masih sangat minim, bahkan ada yang belum tersentuh. Sebut saja daerah Krayan Nunukan, daerah berbatasan dengan Malaysia, tepatnya di Kelurahan Terang Baru, Krayan Nunukan.
Menurut Acy, salah seorang warga Tarakan yang keluarga besarnya di Krayan, daerah ini jangkauan transprotasi cukup sulit. Tidak ada transportasi darat dan laut ke sana. Yang ada hanya dengan pesawat. "Biasanya, kalau mau kesana bisa melalui Tarakan atau Nunukan", ungkapnya. "Dari Tarakan dengan ongkos sekitar 800 ribu ditempuh dengan waktu 25 menit. Sementara dari Nunukan dengan ongkos 700 ribu ditempuh dengan waktu 20 menit. Itupun tiketnya harus pesan jauh hari", lanjutnya.
 |
| Acy, Keluarga besarnya di Krayan |
Acy menceritakan, disana daerahnya batu karang, sehingga sulit akses jalan darat. "Tapi kalau mau ke Malaysia bisa pakai jalan darat", katanya. Tak heran banyak barang-barang kebutuhan sehari-hari berasal dari Malaysia. Harga bensin mahal, 20 ribu/liter. Semen lebih mahal lagi. Krayan termasuk penghasil besar organik berkualitas. Sayangnya, beras ini justru banyak konsumsi oleh Malaysia dan Brunai Darussalam.
Daerah Krayan banyak dihuni suku Dayak. Masyarakatnya sebagian besar Nasrani. "Di kampung keluarga kami mayoritas Nasrani dan tidak ada masjid", ungkap Acy kepada kami saat berbincang bincang dengan kami, Kamis, 18/7/2013 di pinggir laut Juata Laut.
Di daerah lain, daerah Tagol, Sembakung, Nunukan juga mengalami hal yang sama, minimnya sentuhan dakwah. Hal ini dikisahkan Margono kepada kami. Pria asli Klaten, Jateng ini mengisahkan tentang keluarganya yang banyak di Tagol, termasuk ketua RT dan Kepala Desanya.
 |
| Sembakung |
"Daerahnya terisolir", katanya. "Kami yakin, kalau ada pendatang, khususnya dari Jawa, daerah tersebut akan cepat maju", lanjutnya optimis. Ia mengisahkan, daerah Tagol adalah daerah terpencil. Ditempuh dengan jalan laut selama 6 jam dari Tarakan. "Tidak ada listrik. Sinyal sulit dan mandipun masih di sungai", katanya. Selain itu, masih banyak buaya. "Makanya kalau kirim dai kesana yang berjuang betul", harapnya.
Bapak Margono memang berencana mengajak kami ke daerah tersebut. Mengenalkan dengan saudaranya ketua RT dan Kepala Desa, dengan harapan tahun depan FKAM mengirimkan dai kesana dan masyarakat mau menerimanya.
 |
| Pulau Bunyu |
Masih kisah daerah terpencil, tidak jauh dari Tarakan adalah Pulau Bunyu. Pulau yang terletak di sebelah timur Tarakan ini ditempuh selama 1 jam dengan perjalanan laut. Pulau ini sebagai penghasil minyak. Derahnya asri, jalan-jalan juga halus. Hal ini diungkapkan Haris, salah seorang warga Juata Laut kepada kami. Menurutnya, di daerah tersebut sentuhan dakwah Islam masih minim. Membuat kami penasaran untuk mengunjungi pulau tersebut.
Memang kisah-kisah pulau terpencil di Kalimantan cukup banyak. Daerah yang luas dengan jangkauan yang terbatas menjadikan sentuhan dakwah sangat minim. Padahal, antusiasme mereka menerima dakwah tetap tinggi sebagaimana daerah-daerah lain di Tarakan yang telah tergarap baik dengan dakwah Islam.