Bersama 'Onta Merah' Menjelajah Tarakan

Setia mendampingi
Kami menyebutnya 'Onta Merah', kendaraan Yamaha merah yang setia mengantar kami ke berbagai tempat di Tarakan selama bertugas sebagai dai Ramadhan sebulan penuh. Sungguh, walaupun terlihat sederhana, namun sangat membantu untuk memperlancar aktivitas. Dapat dengan mudah dan cepat menjangkau berbagai daerah di Tarakan. Baik untuk aktivitas dakwah maupun sekedar liputan mencari informasi.

Kendaraan tersebut cukup baik, walaupun pernah sekali ban meletus ketika dipakai. Bensinnya juga cukup irit. Lajunya juga masih kencang. Secara umum dalam kondisi baik dan normal. Sehingga memudahkan untuk beraktivitas dengan 'Onta Merah' tersebut.

Sejak awal datang, hari pertama dan kedua kami belum punya aktivitas. Kendaraanpun juga belum terasa perlu. Namun seiring dengan padatnya aktivitas, tentu memerlukan kendaraan yang siap pakai setiap saat. Alhamdulillah, hari ke-2, kami silaturahmi ke tempat kakak kandung di Tarakan. Sejak saat itu, kami disuruh membawa 'Onta Merah' sampai selesai tugas.

Baru menjelang pulang, 'Onta Merah' tersebut kami kembalikan. Walau terasa sederhana, kami merasa bersyukur diberi kemudahan Allah dengan kendaraan saudara. Mudah-mudahan Allah membalas kebaikan semuanya, termasuk kakak kami yang dengan ikhlas dan sukarela meminjami kendaraannya.

Ternyata bukan kami secara pribadi yang merasakan kemudahaan, teman-teman yang berada di Tarakan ketika singgah juga mendapatkan manfaat dari 'Onta Merah' tersebut. Kadang ada yang pinjam, kadang pula untuk antar jemput teman yang datang dari tempat lain.

Foto Bareng di Depan Kantor FKAM

Foto bareng
Sebelum pulang, para dai FKAM menyempatkan diri foto bareng di kantor FKAM cabang Kaltara, tepatnya di Jalan Kusuma Bangsa, No. 17 depan pom bensin.

Dengan seragam kebesaran, jaket FKAM mereka foto bersama. Sebagai kenang-kenangan sebelum pulang. Foto tersebut juga nantinya akan digunakan oleh FKAM cabang Kaltara sebagai bentuk pertanggung jawaban publik agar mengetahui kiprah FKAM selama di Kaltara.

Foto bareng langsung dipimping ketua FKAM, Arman Effendy. Nampak suasana santai dan rileks. Sementara motor dan mobil lalu lalang di belakang juru kamera. "Jangan mundur-mundur, nanti ketabrak mobil", seru salah seorang dai ketika melihat ketua dengan antusias mengambil gambar.

Memanfaatkan Waktu dengan Silaturahmi

Ust. Abdullah (kanan))
 Untuk mengisi waktu kosong sebelum pulang, dai FKAM melakukan silaturahmi ke beberapa tokoh. Di antara kepada Ust. Abdullah, salah seorang tokoh di kota Tarakan. Pak Abdullah, begitu biasa teman-teman memanggil, tokoh yang aktif menerima dai-dai FKAM selama 5 tahun terakhir. Termasuk aktif mencari tempat untuk para dai Ramadhan.

Dengan imam dan pengurus Muhamadiyah
Silaturahmi diiringi dengan cerita tentang kisah-kisah dai yang baru pulang dari pedalaman. Dengan gaya khasnya, Ust. Abdullah banyak menceritakan kisah-kisah perjalan dakwah. Tampak suasana akrab dan penuh kekeluargaan antara dai FKAM dan Ust. Abdullah. "Kalau bisa ada dai FKAM yang ditempatkan disini 6 bulan atau satu tahun", ungkapnya dengan penuh harap.

Selain kepada Ust. Abdullah, juga kepada iman masjid Al Amin, Senin, 12/8/13. Dai-dai FKAM diterima ramah dengan Imam masjid al Amin dan beberapa pengurus. Nampak suasana bincang yang cukup akrab. Apalagi saat membahas tentang Syi'ah yang mulai menunjukkan taringnya di Indonesia.

FKAM mengungkapkan perlu ada kerjasama untuk memberikan imunisasi tentang Syi'ah khususnya diwilayah Tarakan. Mereka cukup merespon, termasuk untuk lebih melihat secara utuh tentang konflik Syi'ah dan Sunni di Suriah. Tentunya ini memerlukan tindak lanjut.

Ketika kami tawarkan, bahwa kami punya dai-dai yang pernah menjadi relawan ke Suriah, sehingga mereka tahu betul bagaimana konflik sunni dan Syi'ah di Suriah, ternyata mereka begitu antusias. "Selama ini di Tarakan seperti adem ayem menyikapi pembantaian Syi'ah terhadap Ahlu Sunnah di Suriah, tidak seperti berbagai daerah lain di Jawa yang begitu gencar dan peduli", ungkap salah seorang peserta silaturahmi tersebut.

Pamit Pulang, Bakar Ikan Bersama Warga

Ibu-ibu membakar ikan laut
Petugas dai Ramadhan di Tarakan bisa jadi yang paling akhir pulang ke Jawa. Namun demikian, disela-sela menunggu jadwal kepulangan, para dai menyempatkan diri bakar ikan dan pamit kepada warga, tepatnya di Juata Laut, Tarakan Utara, Ahad, 11/8/13.

Pemandangan pinggir pantai cukup menarik dan menyenangkan. Tampak suasana akrab dengan warga. Wargapun melalui takmir masjid Nurul Bahri mengucapkan banyak terima kasih atas kedatangan dai-dai FKAM. Mereka berharap tali silaturahmi tetap terjalin. Selain itu tahun mendatang bisa dikirim dai kembali.

Dari FKAM pun juga mengungkapkan hal yang sama. Ucapan banyak terima kasih atas sambutan yang luar biasa. Begitu pula rasa persaudaraan yang tinggi. "Mudah-mudah Allah kembali mempertemukan dan senantiasa menyambung tali silaturahmi yang diikat dengan ikatan iman dan Islam", ungkap salah seorang wakil para dai.

Acara pamitan tersebut sebelumnya diawal dengan bakar ikan, masak kepiting dan udang. Mereka makan bersama-sama. Begitu pula ibu-ibu bersemangat membakar ikan. Nampak suasana akrab dan penuh kekeluargaan.

Catatan Dakwah di Tarakan (Bag. 7) Perbanyak Silaturahmi!

Silaturahmi memiliki kekuatan tersendiri dalam dakwah. Berbagai perbedaan, prasangka yang kurang baik dapat hilang saat bersilaturahmi. Sebagai daerah yang kecil dengan intensitas pertemuan antara aktivis Islam tinggi, Tarakan menjadi daerah pertemuan antara berbagai kelompok Islam. Tak jarang perbedaan dapat menimbulkan kerenggangan bahkan permusuhan.

Silaturahmi menjadi kunci untuk meredam perselisihan dan melebarkan sayap dakwah. Beberapa takmir masjid yang sempat kami bersilaturahmi dengannya sangat terbuka untuk dapat mengisi di masjid yang ia kelola, asalkan memberitahu beberapa hari sebelum Ramadhan. Hal ini untuk menghindari benturan jadwal yang telah ada.

Juga tak kalah pentingnya adalah silaturahmi dengan berbagai tokoh Islam. Hal ini tentu untuk lebih membuka diri dan saling memahami satu dengan yang lain. Daerah dengan masyarakat kebanyakan pendatang, ikatan daerah sangat kuat. Sementara tali silaturahmi mampu meredam berbagai prasangka yang kurang baik antar sesama muslim.

Menjalin komunikasi antar tokoh Islam, takmir masjid, MUI, Departemen Agama dan berbagai instansi terkait guna melancarkan dakwah di Tarakan menjadi keharusan. Karena itu, untuk tahun mendatang dai-dai FKAM yang di tugaskan di daerah Tarakan dan sekitarnya dapat datang lebih awal, 2 atau 3 hari sebelum Ramadhan.

Dengan kedatangan lebih awal, 3 hari sebelum Ramadhan ada jadwal untuk bersilaturahmi ke berbagai tokoh dan instansi guna mengenalkan dai-dai yang akan ditugaskan di daerah Tarakan. Istilah Jawanya adalah "kulonuwun", berpamitan. Selain itu, bisa diberangkan bersama-sama oleh ketua MUI dan Depag.

Dengan cara itu, mempermudah akses ke berbagai daerah terpencil dan bahkan akses ke berbagai tokoh masyarakat di daerah tempat tugas. Lebih meringankan lagi, termasuk kerjasama dalam pembiayaan, baik biaya berangkat, pulang maupun akomodasi selama di tempat tugas. Disini kuncinya adalah perbanyak silaturahmi!

Di SMAN 5 Malinau Selatan, Pesantren Kilat Peserta Hanya 4 Siswa

Mengajar di kelas
Memang berbeda saat siswa Islam sebagai minoritas. Jam pelajaran agama tidak mesti ada. Ada waktunya, tapi kadang tidak ada pengajarnya. Hal ini pula yang dialami di SMAN 5, Malinau Selatan. Dari jumlah siswa sekitar 160, jumlah siswa muslim hanya 14 orang.

Pesantren kilat
Saat 'jam ibadah', sebutan untuk waktu pelajaran agama Islam, tidak semua siwa muslim mengikuti. Dari 14 orang yang ikut pelajaran antara 3 - 4 orang. Yang lain, bebas, bisa ikut bisa tidak.

Kalau di Jawa, anak SMA sudah lancar bacaan shalat dan berbagai aktivitas ibadah lainnya, di Malinau, anak SMA muslim belum tentu bisa belajar shalat. Tak heran, jika disana harus dengan sabar mengajarkan ibadah dasar, seperti shalat, wudhu dan lainnya.

Hal ini pula yang dilakukan dai FKAM, Ust. Yasir saat berkesempatan mengisi di SMA 5 tersebut. Dengan jumlah siswa yang aktif hanya 4 orang, ia harus mengajarkan materi dasar tentang rukun Islam.

Ust. Yasir juga berkesempatan mengisi pesantren kilat. Jangan bayangkan banyaknya peserta. Hanya 4 orang. Itupun sudah dianggap cukup berhasil dengan keaktifan dan kesungguhan siswa mengikuti acara tersebut.

Malinau merupakan daerah dengan mayoritas Nasrani. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang kaya, Masyarakat terbiasa mendapatkan jatah hidup dari pemerintah daerah.
"Jam ibadah", mengajar PAI di kelas

Malinau, Kabupaten Kaya dengan Beragam Suku

Ust. Yasir bertugas di Mushola Nurul Hidayah, Desa Pelancau, Kec. Malinau Selatan, Malinau. Malinau termasuk kabupaten yang kaya. Dengan jumlah penduduk kisaran 50-60 ribu dengan APBD hampir 2,5 triliun cukup mampu hidup layak jika sekedar dibagi-bagikan kepada rakyatnya.

Dari Tarakan naik speadboat selama 3jam, kemudian naik taksi selama 3 jam dengan melintasi hutan. Daerahnya masih subur, ada perkebunan karet, kelapa sawit dan berbagai tumbuhan liar. Masyarakat sebagian besar bertani, karyawan batubara. Muslim di daerah tersebut minoritas. Di tempat Ust. Yasir bertugas hanya ada 12 KK muslim dan 1 mushola. Tidak ada masjid. Disini pula banyak muallaf.

Di Pelancau dan sekitarnya ada 4 suku. Pertama: Suku Kenya. Suku ini memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari suku yang lain. Mempunyai pola pikir yang lebih maju. Lebih mandiri dan mampu mengikuti perkembangan masyarakat di luar. Jarang tergantung kepada pemerintah daerah karena sikap kemandirannya tersebut. 

Kedua: Suku Merap. Secara pendidikan lebih rendah daripada Suku Kenya. Agak susah di atur, karena kebanyakan mereka masyarakat yang berada atau mampu. Awalnya mendiami daerah yang banyak mengadung batubara. Kemudian dipindah dan mendapatkan kopensasi bulanan sesuai dengan tanah yang mereka miliki. Harta yang melimpah belum mampu dikelola dengan baik, banyak untuk bersenang-senang.

Kebiasaan minuman, pesta, maupun budaya berpakain adalah pengaruh dari pekerja-pekerja pendatang yang masuk ke wilayah tersebut. Mereka membawa budaya kota diterapkan di daerah pedalaman.

Ketiga; Suku Puak. Suku ini hampir sama dengan Suku Kenya dan Suku Merap. Namun, secara pendidikan masih dibawah kedua suku tersebut, belum merata. Secara pola pikir masih tradisionalis.

Keempat; Suku Punan. Suku ini secara pendidikan paling terbelakang dari ketiga suku lainnya. Pola pikir juga masih jauh dari ketiga suku lainnya. Kemandirian rendah, hidupnya tergantung kepada pemerintah daerah. Mereka terbiasa dengan suasana alami, berdiam dan bertinggal dipinggir sungai dan hutan. Suka menyendiri, kurang berinteraksi dengan suku dan daerah lain. Semangat untuk maju sangat rendah.

Masing-masing suku saling berkelompok dengan mendiami suatu daerah. Jarang mereka bergabung satu dengan lainnya. Dengan kondisi daerah yang kaya raya menjadikan mereka malas bekerja, karena jatah dari pemerintah daerah lebih dari cukup untuk biaya hidup.

Silaturahmi, Masuk Harus Makan

Silaturahmi setelah sholat Idhul Fitri
Inilah adat Sulawesi, terutama orang Bugis. Saat Idhul Fitri, jika bersilaturahmi dan masuk ke rumahnya harus melalap makanan yang dihidangkan. Jika tidak, dianggap penghinaan, atau minimal tidak menghormati tua rumah.

Sebagai seorang ustadz yang ditugaskan, tentu mereka sangat senang jika didatangi ustadz. Bahkan tak jarang, mereka yang memanggil ustadz untuk datang ke rumahnya, mendoakan dan sekaligus makan bersama. Itu pula yang kami alami saat ber-lebaran di perkampungan yang sebagian besarnya adalah masyarakat Sulawesi, tepatnya orang-orang Bugis di Juata laut.

Mereka menghormati ustadz, agar bersilaturahmi di rumahnya, berdoa dan makan bersama. Harus bersiap-siap makan beberapa kali  dalam sehari, tinggal berapa kali kita masuk rumah dan duduk.

Untuk mensiasati agar tidak sakit perut, apalagi baru selesai puasa, perut belum terbiasa, kami menggambil buras yang paling kecil, lalu kami bagi berdua dengan teman sesama dai, ust. Basuki Rahmat. Namun demikian, bisa dibayangkan, sebelum Dhuhur berkunjung 10 rumah, berarti harus makan sepuluh kali. Begitu pula setelah Dhuhur.

Agar kami bisa menolak halus, setelah Ashar kami pergi. Alasannya pergi ke kota untuk bersilaturahmi dan ketemu teman-teman. Jika tidak, bayangkan satu hari bisa makan 20 kali. Luar biasa.....

Buras, Makanan Sulawesi di Saat Idhul Fitri

Buras, rendang, ayam plus tape ketan, enak dan lezat!
Apa makanan khas Masyarakat Sulawesi di perantauan saat Idhul Fitri? Jawabnya adalah buras. Bagi orang Jawa yang belum pernah bersinggungan dengan orang Sulawesi tidak mengetahui seperti apa makanan buras.

Secara umum, buras dibuat seperti ketupat di Jawa. Namun bentuknya berbeda. Ketupat bentuknya sesuai dengan namanya, namun buras bentuknya lonjong, dibungkus daun pisang, bukan janur seperti ketupat di Jawa.

Memasaknya lebih lama buras daripada ketupat. Bahkan agar lebih padat dan kenyal, dimasak hampir satu hari, tak heran mampu bertahan sampai satu minggu.

Buras ini terbuat dari beras biasa, namun telah diberi bumbu seperti nasi uduk. Rasanya enak dan gurih. Biasanya dimakan bersama dengan daging ayam, atau daging sapi. Bisa berupa opor, atau rendang, atau ayam goreng.

Selain itu, kadang dihidangkan dengan coto Makasar. Ketika kami tanya, apa beda soto dengan coto. Wah beda. Kalau soto biasanya dagingnya ayam, tapi coto dagingnya sapi. Selain itu, masih menjadi hidangan khas menemani buras adalah tape ketan. Wah, sungguh enak dan lezat!.

Belum Turun Mimbar, Langsung di Rangkul Jamaah Sambil Menangis

Suasana haru, berangkulan, bermaafan
Agak terkejut memang. Saat selesai khutbah, belum sempat turun mimbar, para jamaah berebutan merangkul sambil menangis. Tentu yang pertama kali adalah petugas bilal dan imam, karena mereka yang paling dekat. Kami pun hanya bisa mengikuti ritme para jamaah.

Semuanya merangkul satu persatu. Tidak sedikit yang sambil menangis sesenggukan. Baik tua, muda nampak meneteskan air mata. Minimal matanya sembab dan memerah. Kamipun hanya bingung saat melihat mereka sambil merangkul. Kami ikuti saja gerakan mereka. Mereka berjejer antri untuk bersalaman dan berangkulan.

Kami hanya diam. Tak keluar air mata. Namun, sesekali kami juga merasa sedih. Entah, kami nggak tahu apa yang harus kami lakukan. Hanya mengikuti arus jamaah, mereka berdatangan, bersalaman, merangkul dan kebanyakan sambil menangis.

Saat itu, kami menganggap mungkin ini tradisi, selesai Ramadhan, bersedih harus meninggalkan bulan yang penuh barokah. Sedih, ditinggal bulan yang banyak Allah lipatgandakan pahalanya.

Selesai berangkulan dan bersalaman, kami pulang. Sampai rumah saya tanyakan kepada tua rumah. "Apakah tradisinya sini, setelah selesai langsung berangkulan sambil menangis", tanya kami. Tuan rumah menjawab, "Tidak ustadz, itu bukan tradisi, mungkin mereka terharu". Kami agak kaget. "Apalagi mereka mempunyai keyakinan, yang pertama kali merangkul khatib, mereka akan mendapatkan barokahnya", lanjutnya. "Astagfirullah. Saya kira tradisi", jawab kami.

Shalat Idhul Fitri di Perkampungan Terapung dengan Tradisi NU

Saat khutbah
Satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah melaksanakan shalat Idhul Fitri di perkampungan terapung, pinggir laut, masih di Juata Laut, Tarakan Utara. Saat 1 syawal bertepatan dengan 'air jadi' istilah air pasang bagi pelaut dimana saat mereka panen ikan, udang, kepiting dan lainnya. Sehingga saat-saat itu, suasana kampung biasanya sepi, karena kebanyakan masyarakat berada di tambak atau di pabrik udang. Hal ini terjadi 2 kali selama sebulan yaitu 3 hari menjelang dan setelah bulan purnama dan 3 hari menjelang dan setelah awal bulan.


Sesaat sebelum khutbah
Karena saat itu Idhul Fitri, masyarakat secara otomatis libur melaut. Mereka berbondong-bondong menunaikan shalat Ied. Tampak laki-laki maupun perempuan, anak-anak dan remaja. Mereka ramai datang ke masjid.

Dalam spanduk terpampang Imam Ust. Saifullah dari Jawa Timur (Madura), Bilal Bp. Yunus dari Sulawesi dan Khatib Abdul Khoir, M. Ag dari Solo (Jawa Tengah). Karena pertama khatib dalam tradisi NU, kosentrasi kami tentang tata cara khatib. Setelah shalawat, khatib naik ke mimbar dan salam kemudian duduk. Bilal mengumukan agar jamaah tenang.Setelah itu baru Khatib memulai khutbah.

Mendengarkan khutbah
Kami sebelumnya bertanya kepada para Ustadz di Tarakan, tentang tata cara ini. Tapi inilah pertama kali kami praktek. Kami ingin, khutbah sekali tanpa ada duduk kedua. Ternyata, takmir mengatakan, "Jangan nanti bisa geger di sini". Akhirnya, sebagaimana saran ustadz di Tarakan, yang telah terbiasa.

Setelah selesai, ternyata jamaahnya luar biasa banyak. Hampir 700 orang. Sementara infaqnya sebanyak 4.800.000 yang tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 2 juta. "Selama saya disini baru kali ini paling banyak jamaahnya dan infaqnya", kata Haris, takmir masjid kepada kami.  "Namun, ditengah-tengah khutbah tadi saya khawatir akan geger jika sekali khutbah tanpa duduk", ungkapnya. Kami hanya tersenyum saja mendengarnya, alhamdulillah batin kami.
Khusuk mendengarkan

Belajar Melihat Hilal, Nggak Kelihatan

Menjelang matahari terbenam di Juata Laut, 7/8/13
Melihat hilal menjadi ramai saat menjelang satu syawal. Masyarakat menunggu hasil rukyatul hilal untuk menentukan hari raya Idhul Fitri. Tempat yang strategis untuk dapat melihatnya tentu lautan lepas karena dapat memandang bebas.

Saat matahari terbenam
Berbekal informasi, kemungkinan hari raya 1434 H jatuh pada hari Kamis, 8 Agustus 2013, karena berdasarkan perhitungan tinggi hilal lebih dari 2 derajat dan mampu dilihat selamat 8 menit. Saat itu, kami berada dipinggir laut lepas, karena harus mengisi Sholat Idhul Fitri di Juata Laut, Tarakan Utara.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan berada dipinggir laut, kami mencoba mengamati bulan mulai matahari terbenam. Magrib di Tarakan pukul 18.25. Semenjak pukul 18.00 kami telah berada di lokasi, karena jarak dengan kami tinggal tidak lebih dari 300 m.

Karena belum punya ilmu bagaimana melihat hilal, maka saya hanya berpatokan darimana matahari terbenam, maka arah sebaliknya yang kami lihat untuk melihat kemunculan hilal.

Setelah ditunggu beberapa saat, bahkan saat menjelang Magrib, hilal belum nampak. Kami masih bersabar, mungkin sebentar lagi akan muncul, karena suasana laut yang terang, tidak mendung dan berawan. Setelah terdengar adzan Magrib, ternyata juga tidak bisa melihat hilal. Bisa jadi karena belum mempunyai ilmu, posisi yang tepat untuk melihatnya. Lumayan, pengalaman dipinggir pantai menjelang 1 Syawal.
Saat Magrib, 7/8/13 atau 1 Syawal 1434 H

Malam Takbiran, Agar Tidak Pesta Petasan

Cerita untuk anak
Berbeda dengan Jawa, anak-anak di pinggiran pantai Tarakan Utara ini biasa setiap malam takbiran dengan pesta petasan. Bukan petasan kecil, bahkan petasan yang besar dan memekakkan telinga. Mulai sore, pesta petasan memang masih terdengar, terutama menjelas Magrib malam takbiran.

Untuk menghindari kebiasaan tersebut, takmir masjid Nurul Bahri, Juata Laut, Tarakan memiliki cara unik. Anak-anak dikumpulkan di dalam masjid, di ajak takbiran, kemudian diberi pertanyaan dan hadiah yang menarik.

Setiap anak yang dapat menjawab pertanyaan ustadz, mereka akan mendapatkan hadiah, amplop uang sebesar 20 ribu. Ternyata respon anak-anak luar biasa. Mereka berkumpul di masjid untuk ikut takbiran.

Namun, demikian bagi yang tidak dapat menjawab soal, mereka tetap mendapatkan hadiah, amplop uang dari pengurus masjid. Uang untuk anak-anak tersebut didapatkan dari donatur masyarakat sekitar masjid untuk menghindari anak-anak agar tidak main petasan.

Launching FKAM Mejeng di Radar Tarakan

Acara launching FKAM dan BaitulMal tampil di koran lokal, Radar Tarakan, Selasa, 6/8/2013. Koran kebanggaan warga Tarakan ini menampilkan acara tersebut di halaman tiga dalam bentuk komunikasi sosial.

Secara isi sama dengan apa yang kami tulis dalam blog. Baik judul, isi maupun keterangan gambar. Satu hal yang menarik, dengan munculnya di Radar Tarakan sebagai bagian untuk lebih mengenalkan FKAM dan BaitulMal kepada masyarakat Tarakan.

Diharapkan dengan semakin di kenal masyarakat, semakin memudahkan langkah dan gerak dakwah  FKAM di Tarakan ke depan.

Menurut Ketua FKAM Kaltara, Arman Effendy, tahun depan lebih siap untuk menerima dai-dai dari Jawa. Dua atau tiga hari sebelum Ramadhan sudah datang ke Tarakan, sehingga bisa dikelilingkan ke berbagai tokoh, baik MUI, Depag maupun pemerintah kota. "Biar mereka yang melepasnya ke berbagai tempat tugas di Tarakan", pungkasnya.

Launching FKAM dan BaitulMal dengan Santunan Anak Yatim

Bertempat di Sekretariat FKAM, Jl. Kusuma Bangsa No. 17 Gunung Lingkas Tarakan, Sabtu, 3/8/2013 diadakan santunan paket sekolah kepada 96 anak yatim dan dhuafa. Acara yang dikemas dengan launching FKAM dan BaitulMal Cabang Kaltara tersebut dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan anak-anak yatim serta dhuafa. Di antaranya H. Safri. Is, Drs. Amin Tansi, Ust. Abdullah, aparat pemerintahan desa dan masyarakat sekitar.

Dalam sambutannya, ketua FKAM Cabang Kaltara, Arman Effendy menjelaskan bahwa dengan dibukanya FKAM Cabang Kaltara merupakan cabang FKAM yang berpusat di Surakarta. Dijelaskan, diharapkan dengan dibukanya cabang di Kaltara gerak dakwah, sosial dan kemanusiaan semakin meluas, khususnya di daerah Kaltara.

Sementara, Abdullah Khoir, sebagai utusan FKAM pusat menjelaskan bahwa gerak FKAM selama ini dalam bidang pendidikan, sosial, dakwah dan kemanusiaan. Di bidang sosial dengan memberikan santunan, termasuk santunan kepada fakir miskin, anak yatim dan dhuafa sebagaimana yang dilakukan hari ini. Sementara dalam bidang kemanusiaan, FKAM selalu hadir ketika terjadi bencana alam. "FKAM selalu hadir setiap adanya bencana alam seperti tsunami di Aceh, Pangandaran, gempa Yogya dan Klaten, Meletusnya Merapi. Bahkan, baru-baru ini ketika terjadi gempa di Aceh, FKAM juga membuka posko di sana", jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, di Tarakan sudah 5 tahun FKAM mengirimkan dai di Tarakan. Untuk tahun ini sebanyak 11 dai khusus untuk wilayah Tarakan dari total 70 dai yang dikirim ke berbagai pelosok di Indonesia. "Namun baru tahun ini kami membuka cabang di Kaltara. Mudah-mudahan dengan adanya cabang FKAM ini gerak dakwah di Tarakan semakin meningkat", ungkapnya.

Acara launching secara resmi ditandai dengan penyerahan secara simbolis paket sekolah kepada anak-anak yatim dan dhuafa oleh tokoh masyarakat Kota Tarakan, H. Safri, Is. Dalam sambutan pengantarnya, H. Safri mendukung penuh keberadaan FKAM cabang Kaltara. "Bahkan kami siap menjadi donaturnya", katanya.

Sementara, BaitulMal FKAM siap menerima zakat, infaq dan shodaqoh dari masyarakat untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya. Bagi yang berminat dapat mengirimkan ke Bank Syariah Mandiri Cab. Tarakan An. BaitulMal FKAM No. Rek. 770 020 0005.
Tokoh Kota Tarakan, H. Safri, Is menyerahkan santunan




Tiga Kali Mengisi Jum'at, Tiga Kali Berbeda

Ini pengalaman menarik ketika kami mengisi khutbah Jum'at. Tiga kali sebagai khatib  di tiga masjid yang berbeda, ternyata tatacaranya juga berbeda. Inilah perlunya mengetahui kebiasaan masjid dimana akan menjadi khatib Jum'at. Termasuk masalah basmalah antara jahr dan sirr juga sangat sensitif. Sebagian besar model NU, membaca basmalah dengan sirr menjadi gejolak tersendiri di hadapan jama'ah.

Pertama, saat mengisi di masjid Jami' Hidayatullah, Khutbah Jum'at tidak jauh berbeda dengan yang biasa dilakukan, seperti apa yang juga dilakukan Muhammadiyah. Biasanya, setelah takmir mengumumkan, khatib langsung salam dan dilanjutkan dengan pembukaan. Adzan cukup sekali. Pembukaanpun tanpa ragu kami mengunakan kalimat, 'fainna ashdaqal hadits kitabullah..... sampai kulu bid'atin dholalah'. Hal ini tidak ada masalah. Secara umum Hidayatullah dan masyarakat binaannya sama seperti Muhammadiyah dalam tata cara khutbah dan lainnya.

Kedua, ketika Khutbah di Masjid Nurul Bahri, Juata Laut. Disini, dengan kultur NU sebagai daerah pesisir laut, tradisi NU masih cukup melekat. Dua kali adzan. Setelah adzan pertama, seperti biasa dilanjutkan dengan sholat sunnah, kemudian muadzin membaca sholawat baru khatib berdiri dengan memegang 'pedang' alias tongkat. setelah itu, diam sebentar baru muadzin doa, selesai doa khatib salam dan duduk, sedangkan muadzin adzan ke dua. Setelah selesai adzan kedua, baru pembukaan khutbah sampai selesai tidak ada perbedaan.

Ketiga, ketika khutbah di Masjid Darun Najah, Karanganyar Tengah. Disini juga kental dengan tradisi NU, dengan dua kali adzan dan membawa 'pedang' alias tongkat. Perbedaanya setelah selesai muadzin sholawat, khatib langsung salam dan duduk, kemudian muadzin adzan kedua. Tidak ada doa sebelum adzan kedua.

Karena tidak terbiasa, saat memegang 'pedang' kami agak tersenyum. Bahkan saat khutbah ketiga, karena kami kira seperti khutbah kedua di tradisi NU, kami menunggu muadzin untuk membacakan doa, ternyata tidak ada doa, sehingga jamaah saling tolah-toleh, mengapa kami tidak segera melakukan salam pembuka. Melihat seperti itu, kami langsung tanggap dan langsung salam pembuka lalu duduk, ternyata benar, muadzin baru melanjutkan adzan kedua.

Dua Kali Bertemu Wakil Walikota
Hal yang menarik, secara tidak sengaja kami dua kali ketemua wakil walikota. Pertama saat mengisi kultum Ramadhan di Masjid Baburrahman, Juata Laut. Kedua Saat mengisi khutbah Jum'at di Masjid Darun Najah. Memang pertemuan tersebut tidak sengaja. Pada pertemuan pertama, wakil walikota mempersilahkan untuk main ke rumahnya. Ternyata belum sempat sudah ketemu yang kedua kalinya.

Inilah yang kami ungkapkan dibeberapa tulisan, untuk menemui tokoh sangat mudah. Baik tokoh pemerintahan, maupun tokoh agama. Selain tempat yang sangat kecil, interaksi mereka satu dengan yang lainnya cukup tinggi. Apalagi bulan-bulan ini, Tarakan sedang mempunyai hajat pemilihan walikota.

Catatan Dakwah di Tarakang (Bagian 6)



Silaturahmi Antar Potensi Dakwah

Silent Fighting Antar Potensi Dakwah
Kami mengistilahkan silent finghting dengan pertarungan senyap antar potensi dakwah. Walaupun masing-masing memiliki basis sendiri. Melihat kota Tarakan yang kecil dengan berbagai potensi yang besar, tak heran jika berbagai harokan Islam masuk. Selain NU, Muhamadiyah, Hidayatullah, Wahdah, juga ada Salafi. Pola pemahaman Ust. Aman Abdurrahman juga terdapat di sini.

Masing-masing tokoh saling mengenal karena daerahnya yang kecil. Bahkan satu dengan lainnya juga mengetahui, apakah dari NU, Muhammadiyah, Hidayatullah, Wahdah, Salafi bahkan dari model pengajian Ust. Aman. Disinilah diam-diam terjadi pertarungan senyap untuk saling merebut pengaruh dan mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya.

Hal yang menonjol mereka memiliki masjid sebagai basis masing-masing. Baik NU disimbolnya dengan masjid Al Ma’arif atau Nurul Islam. Muhamadiyah disimbolkan dengan masjid Al Amin. Hidayatullah di simbolkan dengan masjid Jami’ Hidayatullah di Karungan. Wahdah dengan masjid At Tauhid, Salafi dengan masjidnya sendiri, sementara model Ust. Aman berkelompok di masjid Nida’ul Qital.

Karena model NU dan Muhamadiyah mayoritas, sedangkan mereka minim dai, maka dai-dai Wahdah, Hidayatullah bisa masuk memberikan ceramah atau pengajian. Sementara salafi cukup kaku, tidak jauh beda dengan model pengajian Ust. Aman.

Peluang Dakwah dan Pemuda
Peluang yang bisa diambil, baik Ramadhan maupun di luar Ramadhan, jika sudah memiliki data dai yang mampu memberikan ceramah atau pengajian, kita bisa menawarkan dai-dai tersebut untuk mendapatkan jadwal rutin, baik mengisi kultum, pengajian maupun khutbah Jum’at.

Hal yang agak terlupakan, tidak jauh berbeda dengan di Jawa adalah perhatian terhadap generasi muda, baik anak setingkat SMP maupun SMA. Masing jarang yang mampu menembus generasi muda untuk mengadakan kajian keislaman. Padahal mereka adalah potensi yang besar untuk menjaring kader dakwah ke depan. Dengan kondisi orang tua yang mampan, pemuda-pemuda tersebut banyak yang menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

Catatan Dakwah di Tarakang (Bagian 5)



Biaya Hidup Tinggi
Potensi ekonomi di Tarakan cukup besar. Sebagai kota terkaya ke-17 di Indonesia, tingkat pendapat penduduk tinggi. UMR hampir 2 juta. Sementara mata pencaharian masyarakat kebanyakan pedagang, pelaut, petambak dan pekerja di berbagai perkebunan dan perminyakan. Tingkat konsumeritas tinggi. Berbagai bentuk bahan makanan laku dijual. Tak heran, di Tarakan biaya hidup cukup tinggi.

Saat Ramadhan, menjelang berbuka, banyak masyarakat yang berkerumun di tempat-tempat penjualan makanan. Alasan kesibukan dan kerja, sebagian besar masyarakat lebih suka membeli daripada memasak sendiri. Ini pula menjadikan berbagai aneka makanan laku di jual. Toko dan warung makan juga penuh dengan pembeli. Begitu pula berbagai tempat perbelanjaan. 

 Potensi Ekonomi dan Zakat

Potensi zakat cukup besar. Nampak, selama Ramadhan, gerai-gerai zakat bertebaran di berbagai sudut jalan dan pusat perbelanjaan ataupun tempat-tempat strategis. Baik milik BAZ, BMH (Hidayatullah), Wahdah Islamiyah dan PKPU.


Pemerintah kota Tarakan tahun 2013 ini mengalokasikan 500 juta uang zakat diserahkan kepada BAZ. Sementara BAZ sendiri mampu mengumpulkan uang miliaran rupiah dari masyarakat. Tak heran, ketika ada isu adanya penyelewengan dana zakat untuk politik, Ketua Executiv BAZ Syamsi Sarman dengan nada tinggi  melepaskan baju seragam BAZ di hadapan walikota dan menyatakan siap mempertanggung jawabkan di dunia dan akherat. Menurutnya, jangankan 500 juta yang dari pemerintah, 4,5 miliar dana BAZ siap dipertanggungjawabkan.

Artinya, betapa besar potensi zakat yang terkumpul di Tarakan. Beberapa sumber yang kami temui, BAZ memang paling banyak mampu mengumpulkan dana masyarakat. Selain itu BMH (milik Hidayatullah), Wahdah dan lainnya juga tidak kalah besarnya. Bahkan kisaran ratusan juga rupiah hanya dari gerai zakat yang dibuka.

Pernah seorang takmir masjid menceritakan, masjidnya tidak mau menerima dana zakat, karena tidak dapat dialokasikan untuk pembangunan masjid. Maka masyarakat mencari akal lain dengan mengatakan bahwa yang ia berikan adalah infaq dan shodaqah, padahal sebenarnya dana zakat. Kesadaran masyarakat untuk membayar zakat mal juga cukup tinggi.

Contoh lain, dana masjid dari infaq jama’ah cukup besar. Hampir tiap-tiap masjid memiliki saldo cukup banyak. Seperti masjid tertua, Nurul Islam sebagaimana diungkap Radar Tarakan, tahun 2013 ini saja memiliki saldo sebanyak 260 juta lebih. Masjid Al Amin pernah sampai 300 juta saldonya. Masjid yang pernah kami mengisi Jum'at, Darun Najah yang berada di daerah Karanganyar Tengah, masjidnya tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Namun demikian saat takmir mengumumkan jumlah saldo kas masjid nilainya lebih dari 88 juta. Sungguh, potensi yang fantastis!