Bangun Keluarga Karena Allah

Bangun Keluarga Karena Allah

Membangun keluarga semata-mata karena Allah menjadikan masalah yang berat terasa ringan. Berbagai problem dapat diselesaikan dengan tepat. Ibarat perahu, ketika berlayar, antara nahkoda dan penumpang memiliki arah dan tujuan yang sama. Terikat dengan tautan hati, satu tujuan semata-mata mencari keridhoan Allah.

Ali bin Abi Thalib adalah menantu Rasulullah yang miskin. Istrinya Fatimah. Ia pernah menyewakan tenaganya kepada seorang Yahudi untuk menimba air dengan hadiah satu biji korma untuk satu timba. Begitu pula Fatimah, ia banyak menggiling gandum sampai tanganya melepuh, semua kesulitan tersebut dihadapi dengan tegar. Justru kesungguhan Ali bin Abi Tholib tersebut menjadikan Fatimah semakin mencintai suaminya.

Problem dalam Keluarga

Perjalanan berumah tangga tidak selamanya mulus. Mesti ada problem yang mesti diselesaikan. Baik kaitannya dengan hubungan suami istri, anak, kerabat dan lainnya.
Rasulullah pernah mendapatkan istrinya saling cemburu. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan perhatian dari Rasulullah. Hal biasa terjadi pada perempuan. Namun Rasulullah menyikapinya dengan bijak dan penuh perhatian. Kecemburuan tersebut akhirnya luntur menjadi cinta dan kasih sayang.

Rasulullah juga pernah menghadapi tuntutan istri-istrinya dalam hal keduniaan. Sampai-sampai ia harus menyendiri beberapa saat. Tidak ada jalan lain mengadu kecuali kepada Allah SWT. Namun ketika disampaikan kepada istri-istrinya, apakah lebih menginginkan keduniaan ataukah akherat. Maka mereka serempak lebih menginginkan akherat. Dunia hanya wasilah dan sementara, namun akherat adalah kekal. Betapa pondasi keluarga semakin kokoh saat persoalan datang jika dibangun semata-mata karena Allah.

Keluarga yang Tegar Ujian

Ujian bagian dari tabi’at perjalanan seorang aktivis. Termasuk didalamnya adalah keluarga, baik anak maupun istri. Mereka adalah bagian dari ujian. Jika gagal, berat untuk bicara perjuangan Islam, apalagi iqomatuddin. Allah menyebutkan istri dan anak sebagai ujian dalam firmannya surat At Taghabun: 14,15, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Imam Asy Syafi’i ketika ditanya mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah hidup dengan tenang atau hidup dengan ujian. Beliau menjawab: ‘Seseorang tidak akan hidup dengan tenang setelah mereka diuji. Sesungguhnya Allah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, maka tatkala mereka bersabar, Allah-pun memberikan ketenangan hidup pada mereka. Maka, janganlah seseorang menyangka bahwa dirinya terlepas dari kepedihan sama sekali.’

Kadang dalam keluarga, selain diuji dengan anak dan istri, juga diuji dengan harta. Baik dalam kondisi lapang maupun sempit rezkinya. Dalam keadaan lapang, seorang mukmin senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menunaikan hak-hak atas harta yang dimilikinya, sementara dalam kesempitan ia akan bersabar, tidak berburuk sangka kepada Allah. Kesabaran inilah yang akan mendatangkan pertolongan Allah dan dimudahkan dalam segala urusan yang melingkupinya.

Kadang Allah menguji dengan sakit, ketakutan, lapar, peperangan dan jihad. Keluarga-keluarga yang tegar menghadapi ujian Allah menjadi kunci untuk menapaki jalan iqomatuddin bagi seorang aktivis.

Satukan Hati untuk Mencintai Allah

Cinta menjadi unsur terpenting dalam ibadah. Cinta dengan ketundukan, merendahkan diri dan ketaaan secara mutlak tidak boleh terbagi. Ia khusus untuk Allah. Tidak boleh selain-Nya. Jika terbagi, berarti kita membagi ketundukan dan ibadah kita kepada selain Allah. Artinya kita telah berbuat dosa paling besar, yaitu syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 165, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.”

Cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri, menjadi bagian dari fitrah dan tabiat manusia. Mencintai keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, harta, dunia dan  bahkan cinta kepada lawan jenis. Semuanya tidak melampaui cintanya kepada Allah. Cinta itu tidak boleh melalaikan Allah. Allah mengancam bagi yang melalaikan dengan selain-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 26, “Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Jika cinta ini benar, bersatu dalam jiwa, tidak akan marah saat miskin, tidak putus asa meskipun menderita. Tidak menyesal dikala ajal datang.Tidak bersedih hati atas takdir yang menimpanya. Tidak berkecil hati atas kemalangan yang datang. Laksana kawan, se-iya, sekata, setujuan. Ia akan menikmati jalan yang diempuh dan dilalui meskipun terjal dan mendaki.

Karena itu, tanamkan cinta yang benar dalam keluarga. Baik terhadap istri dan anak-anak. Cintai yang kekal dengan sepenuh hati, niscaya Allah akan mencintai Anda dan keluarga! Besarnya kebahagiaan akan datang sebanding seberapa besar Anda menempatkan cinta kepada Allah di atas cinta kepada selain-Nya.
Bangunan cinta yang benar inilah akan memperkokoh pondasi keluarga. Cinta yang hadir semata-mata karena Allah, sebagaimana cintanya para Nabi, Rasul, orang-orang sholeh. Cinta kepada Allah diatas segala cinta yang ada di dunia.

Kasih Sayang Rojulun Sholeh

Selain karakter khas yang harus dimiliki seperti ketaqwaan, amar ma’ruf nahyi munkar, jihad di jalan Allah, sabar dan gigih dengan ujian, rojulun sholeh juga harus memiliki sifat tegas dan kasih sayang. Ketegasan dan kasih sayang diperlukan untuk mengokohkan bangunan rumah tangga agar tercipta keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Keluarga yang penuh dengan ketenangan, cinta dan kasih sayang dalam bingkai ketaatan kepada Allah SWT. Sementara interaksi dengan sesama mukmin akan melahirkan ketentraman bermasyarakat. Muamalahnya dengan orang kafir akan memunculkan ketinggian akhlak dan harga diri seorang muslim.

Lemah Lembut Sesama Mukmin, Keras Terhadap Orang Kafir

Kasih sayang sesama mukmin dan keras terhadap orang kafir adalah perwujudan iman rojulun sholeh. Sifat ini melekat dan menjadi dasar interaksi sesama mukmin, begitupula dengan orang kafir. Inilah perwujudan dari ayat Allah dalam surat Al Fath; 29, ‘Muhammad itu utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka’.

Mencintai sesama mukmin menjadi pondasi dalam mencintai keluarga. Rasulullah bersabda, “Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri” (HR. Bukhari). Kebersamaan dengan sesama mukmin lebih menentramkan dalam interaksi sesama makhluk. Karena itu, Rasulullah melarang untuk mengkhianati, menipu, mendustakan dan menghinanya. Ini sebagaimana hadits Rasulullah, “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim lainnya, tidak boleh dikhianati, didustakan dan juga tidak boleh membiarkan dihina orang. Semua hak seorang muslim atas muslim lainnya adalah haram kehormatannya, hartanya dan darahnya” (HR. Tirmidzi).

Kisah lebih mengutamakan saudaranya sesama mukmin terekam jelas dalam perang Yarmuk, saat akan memberikan air kepada salah seorang mujahid yang terluka, tiba-tiba ia mengisyaratkan untuk diberikan kepada sahabat yang lain, begitu akan diberikan kepada orang tersebut, ia juga mengisyaratkan kepada yang lainnya, begitulah seterusnya, sampai ketika orang yang mau memberikan air tadi kembali kepada orang pertama, ternyata ia telah syahid, begitupula sahabat kedua dan ketiga.

Begitupula kisah tentang sahabat Anshar yang menolong saudaranya Muhajirin, saat ia tidak mendapatkan makan di rumahnya kecuali untuk anaknya, ia menyuruh istrinya untuk menidurkan anak kesayangannya dan memasakkan makanan anaknya untuk saudara Muhajirin yang lebih membutuhkan. Banyak kisah-kisah emas kasih sayang sesama mukmin melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri terekam dalam lintas sejarah Islam.

Sementara ketegasan terhadap orang kafir tergambar dalam bentuk amar makruf nahyi munkar. Kisah Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Sahlul yang ingin membunuh ayahnya karena sering menghina Rasulullah menunjukkan ketegasan rojulun sholeh. Meskipun Rasulullah melarangnya, niat dan kesungguhan membela Islam serta ketegasan terhadap orang munafik yang menghina Rasulullah walaupun ayahnya sendiri telah teruji. Ini menjadi bukti kecintaan rojulun sholih kepada Islam dan kaum muslimin.

Antara Kasih Sayang dan Tegas Terhadap Istri

Ada anggapan, seorang aktivis Islam tidak romantis, kaku dan egois. Sulit untuk menerima masukan, baik dari istri dan anak-anaknya. Tidak peduli dengan kesibukan istri di rumah. Benarkah anggapan tersebut? Saat ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ditanya menganai apa yang dilakukan Rasulullah SAW saat di rumah, beliau menjawab bahwa Rasulullah mencuci sendiri pakaiannya, memeras susu kambingnya dan melayani dirinya sendiri. Begitu pula Rasulullah pernah menjahit baju, menambal sandalnya dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain sebagaimana yang pernah dilakukan laki-laki di rumah.

Kasih sayang Rasulullah terhadap istrinya cukuplah kisah dibawah ini sebagai gambaran. Sekelompok orang Habasyah masuk masjid dan bermain di dalamnya. Ketika itu Rasulullah Saw. berkata kepadaku, “Wahai Humayra`, apakah kamu senang melihat mereka?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau berdiri di pintu rumah. Aku menghampirinya. Kuletakkan daguku di atas pundaknya dan kusandarkan wajahku ke pipinya. Di antara ucapan mereka (orang-orang Habasyah) waktu itu, Abu al-Qasim (Rasulullah) orang baik.’ Lalu Rasulullah berkata, “Cukup.” Aku berkata, “Ya Rasulullah, jangan tergesa-gesa.” Beliau pun berdiri lagi untukku. Kemudian beliau berkata lagi, “Cukup.” Aku berkata, “Jangan tergesa-gesa, ya Rasulullah.” Bukan melihat mereka bermain yang aku suka, melainkan aku ingin para perempuan tahu kedud kan Rasulullah bagiku dan kedudukanku dari beliau.”

Sebagai bentuk kasih sayang, Rasulullah juga pernah mengusap air mata isterinya Shafiyah radhiyallahu ‘anha dalam suatu perjalanan. Rasulullah juga senantiasa memperhatikan kebutuhan-kebutuhan isterinya baik makanan maupun pakaian. Bahkan Rasulullah tidak pernah mencaci, membentak dan memukul wajah istrinya. Jika dia tidak berkenan, Rasulullah hanya diam.

Namun Rasulullah bersikap tegas saat istrinya mulai menuntut sesuatu yang tidak diinginkannya, condong kepada dunia. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Ahzab ayat 28-29:

 Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar” 

Kepada istri-istrinya, Rasulullah mengajukan dua pilihan, tetap hidup bersama beliau dalam kemiskinan dan kesederhanaan, atau hidup tanpa beliau dalam kemewahan dan berlimpah harta. Kepada ‘‘Aisyah beliau berkata, “Bermusyawarahlah dengan kedua orangtuamu, jangan terburu-buru dalam urusan ini!” ‘Aisyah segera menjawab, “Apakah aku harus bermusyawarah tentang Allah dan Rasul-Nya, ya Rasulullah?” Seperti diketahui, semua istri beliau pada akhirnya memilih Allah, Rasul-Nya dan negeri akhirat dalam kesederhanaan, kemiskinan, kesempitan dan kesulitan dunia.

Begitulah sikap rajulun sholeh, kasih sayang terhadap istri dan anaknya, penuh perhatian, tegas dan wibawa. Di saat bersamaan, ia juga akan mencintai sesama mukmin, lemah lembut terhadap mereka dan keras terhadap orang kafir.

Pastikan Laki-laki Sholeh



 
Laki-laki sholeh adalah idaman setiap wanita. Tak ada keraguan. Kesholehan akan menghantarkan keluarga yang dibangun menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Namun, mencari laki-laki sholeh bukan pekerjaan mudah. Kultur wanita yang lebih pemalu daripada laki-laki, mudah percaya, gampang terpedaya dengan janji-janji manis serta lebih senang dan bangga dengan tampilan luar seakan mendapatkan laki-laki sholeh bagai barang langka, sulit dicari, kalaupun ada tak semudah mendapatkannya. Wanita sholehah pasti ingin mendapatkan laki-laki sholeh. Hal ini sebanding dengan laki-laki sholeh ingin mendapatkan wanita sholehah.

Karakteristik Laki-laki Sholeh

Di antara karakter laki-laki sholeh adalah ketaatannya kepada Allah SWT. Pribadinya adalah pribadi yang penuh dengan nilai-nilai ketaqwaan. Pribadi ini tercermin dari sikap dan perilaku sehari-hari. Dalam amalan ibadah, laki-laki sholeh bukan sekedar melaksanakan yang wajib sebagai gugurnya sebuah kewajiban. Lebih dari itu, ia akan melaksanakan yang sunah seperti sholat-sholat sunah, sholat lail, shoum sunnah dan lainnya serta menjaga untuk selalu sholat berjamaah.

Laki-laki sholeh ikhlas dalam beramal. Tujuannya adalah tujuan akherat, semata-mata untuk mencari keridhoan Allah. Ia sabar menghadapi ujian dan cobaan yang menjadi tabi’at dari orang-orang sholeh untuk menaikkan derajat ketaqwaannya. Takutnya hanya kepada Allah, bukan kepada selainNya. Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang sholeh. Sungguh diantara mereka ada yang mengalami kemiskinan sehingga ia tidak memiliki apa selain pakaian yang dipakainya. Dan ada yang diuji dengan penyakit kulit (bisul) sehingga membawa maut. Dan diantara mereka lebih suka ditimpa ujian daripada diberi nikmat” (HR. Ibnu Majah).

Imam Asy Syafi’i ketika ditanya, mana yang lebih baik apakah seseorang hidup dengan tenang atau hidup dengan ujian? Beliau menjawab: “Seseorang tidak akan hidup tenang kecuali ia telah diuji. Sesungguhnya Allah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, maka tatkala mereka bersabar, Allah-pun memberikan ketenangan hidup pada mereka”.

Di antara ciri laki-laki sholeh adalah komitmennya terhadap dakwah Islam dengan menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Komitmen dakwahnya tidak diragukan lagi. Dimana berpijak, ditempat itulah panggilan dakwah berkumandang. Ia menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar sebagai perwujudan khoiru ummah, umat terbaik sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imron ayat 110: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar”.  Juga perwujudan firman Allah dalam surat Al Maidah ayat 104: “Hendaklah ada dikalangan kamu umat yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”.
Amar makruf dengan menggerakkan dan mengajak manusia untuk melaksanakan perintah Allah. Sementara nahyi mungkar adalah dengan mengajak dan menggerakkan manusia untuk meninggalkan apa yang dilarang Allah. Kewajiban ini berada dipundak setiap muslim sesuai dengan kadar dan kemapuannya. Karena itu, laki-laki sholeh tidak bisa dipisahkan dari sifat tersebut.

Menyeru yang makruf dan mencegah kemungkaran tidak menghalanginya walaupun mendapatkan celaan dan siksaan manusia. Rasulullah pernah wajahnya dilepari tanah sepeninggal pamannya Abu Tholib, sampai putrinya menangis melihatnya, hingga Rasulullah menghiburnya, “Hai putriku, janganlah engkau bersedih hati karena Allah melindungi ayahmu. Durlu waktu Abu Tholib masih hidup, orang Quraiys tidak berani menggangguku, kini mereka berani” (HR. Baihaqi).

Rasulullah juga pernah diludahi wajahnya dan dilempari tanah kepalanya saat menyampaikan kalimat tauhid kepada orang-orang Quraiys dan berbagai perlakuan kasar lainya akibat dakwah beliau. Urwah bin Zubair ra bercerita: “Aku bertanya kepada Ibnu ‘Ash, apakah yang diperbuat kaum Quraiys terhadap Nabi yang paling keras? “Pernah pada suatu hari, ketika Nabi sedang sholat di dekat Ka’bah, tiba-tiba datanglah Uqbah bin Abi Mua’ith dengan sebuah kain dan langsung diikat pada leher Nabi SAW sehingga beliau hampir tercekik atas perbuatan Uqbah tersebut. Di saat itu, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Ash Shidiq ra dan menarik pundak Uqbah dan melepaskan Nabi dari cekikannya serta berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang yang berkata Rabbu adalah Allah? Padahal dia telah datang dengan membawa suatu bukti”. (HR Bukhari)

Di antara ciri yang lain dari laki-laki sholeh adalah komitmennya perjuangan Islam. Jihad adalah bagian dari karakter laki-laki sholeh.  Hal ini merupakan hasil dari tarbiyah yang benar. Nilai pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan laki-laki sholeh.  Perwatakan laki-laki sholeh adalah menjual diri dan hidupnya untuk Allah. Jihad ini menjadi manifestasi puncak ketinggian Islam, sebagaimana ungkapan Syaikh Abdullah Azzam, ‘Bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatupun dari seluruh amal-amal sholeh yang dapat menandingi jihad. Dan sesungguhnya pahala seorang mujahid tidak dapat diimbangi  oleh sesuatupun dari amal-amal sholeh yang lain’.

Handholah meninggalkan istri yang baru dinikahinya saat ada seruhan jihad. Sehingga Rasulullah menyebutkan Handholah dimandikan malaikat, karena syahid sebelum sempat mandi junub. Mus’ab bin Umair meninggalkan kemewahan dan hura hura hidup duniawi setelah mengenal Islam. Begitu banyak kisah pemuda-pemuda sholeh yang berjuang membela Islam. Prinsip hidupnya sebagaimana ungkapan Imam Asy Syafi’i, Aku, jika aku masih hidup pasti aku akan bisa makan. Jika aku mati, aku pasti ada tempatnya (kuburan). Semangatku adalah semangat para raja. jiwaku adalah jiwa merdeka, yang memandang kehinaan adalah kekafiran”. Inilah prinsip hidup laki-laki sholeh. Karena itu, pastikan, calon pendamping Anda adalah laki-laki yang sholeh!.

Pilih Istri Sholehah!



 
Selesai mengurus jenazah khalifah Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz sejenak ingin merebahkan tubuhnya karena lelah. Melihat ayahandanya mau istirahat, Abdul Malik, salah seorang putra Umar bin Abdul Aziz yang saat itu baru berumur 17 tahun mendatanginya seraya berkata, “Apa yang ingin Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”. Umar bin Abdul Aziz menjawab: “Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa”. Abdul Malik: “Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang didhalimi wahai Amirul Mukminin?”.  Jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz: “Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti jika telah datang waktu Dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang didholimi kepada pemiliknya, insya Allah.”

Mendengar jawaban ayahnya, dengan sigap Abdul Malik balik bertanya: “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu Dhuhur wahai Amirul Mukminin?”. Kata-kata anaknya  menyentak Umar bin Abdul Aziz. Kata yang membangkitkan semangat, melenyapkan segala kelelahan serta memberi kekuatan kepadanya. Dirangkul dan diciumlah kening anaknya seraya berucap: “Segala puji bagi Allah yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu melaksanakan agamaku.”
Kisah Umar bin Abdul Aziz dan anaknya tersebut menegaskan bahwa hadirnya anak sholeh membantu mewujudkan keimanan dan ketaqwaan dalam sebuah keluarga. Bapak bertanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga, sementara ibu sebagai tonggak lahirnya generasi yang bertakwa.

Memilih Istri yang sholehah

Sebagai calon pemimpin dalam rumah tangga, seorang laki-laki harus tepat memilih calon pendampingnya. Rasulullah SAW menyebutkan; “Wanita itu dinikahi karena empat hal: hartanya, keturunan, kecantikan dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang berpegang teguh kepada agamanya, tentu hal itu ckup bagimu” (HR. Muslim).

Rasulullah juga menyebutkan bahwa sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah. Istri yang hatinya selalu bersyukur, lidahnya dibasahi dengan dzikir dan membantu dalam urusan dunia dan  akherat.
Secara lebih jelas dan tegas Rasulullah menyebutkan ciri wanita sholehah dan kebalikannya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban yang berbunyi: “Di antara kebahagiaan adalah wanita sholehah yang apabila engkau pandang, dia membuatmu gembira. Bila engkau pergi dari sisinya, maka dia menjaga kehormatan dirinya dan hartamu. Dan di antara penderitaan adalah wanita yang apabila engkau pandang, tidak menyenangkan kepadamu dan mengobral ucapannya tentang dirimu. Apabila engkau pergi dari sisinya, dia tidak menjaga kehormatan dirinya dan hartamu”.

Kisah Penjual Susu dan anaknya                    
              
Saat Umar bin Khattab berkeliling melihat kondisi rakyatnya, ia mendengar pembicaraan seorang gadis dengan ibunya. Ibu tersebut ingin mencampur air dengan susu yang akan dijualnya. Gadis itu berkata, “Wahai ibu, apakah ibu akan mencederai janji, menipu kaum muslimin dan mendustai Amirul Mukminin, bukankah Amirul Mukminin melarang perbuatan seperti itu?”. Ibu tersebut menjawab: “Apakah Amirul Mukminin melihat aku melakukan hal ini?. Si gadis menjawab: “Jika Amirul Mukminin tidak melihat kita, tetapi Allah Penguasa alam semesta ini pasti melihat kita”.

Mendengar dialog tersebut, Umar langsung mendatangi rumah tersebut dan ingin mengetahui siapa sebenarnya gadis tersebut. Ternyata ia hanyalah anak penjual susu. Setelah itu, Umar langsung pulang dan menawarkan gadis tersebut untuk dinikahi salah seorang dari anaknya. Akhirnya anak Umar bin Khattab, ‘Ashim bin Umar menikahinya. Dari pernikahan ini lahir seorang putri bernama Laily yang dinikahi Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan inilah lahir seorang khalifah Agung Umar bin Abdul Aziz.

Kisah Khonza’ dan keempat putranya

Kisah Al Khansa’ banyak menghiasi  kisah-kisah perjuangan. Simbol ketegaran, keteguhan dan ketekunan seorang ibu.  Al Khanza’ lahir dan tumbuh di tengah suku bangsa Arab yang mulia yaitu  Bani Mudhar, sehingga banyak sifat mulia dalam dirinya. Ia adalah seorang yang fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, dan tak suka berpura-pura. Ia juga seorang penyair yang sangat masyhur.

Al Khanza’ memiliki empat anak laki-laki. Dalam perang Qodisiyah.  Sehari sebelum perang, ia menyampaikan nasehat kepada putra-putranya, “Hai putra-putraku, kalian semua memeluk Islam dengan sukarela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih baikdaripada kehidupan dunia yang fana.

Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, beratahanlah, dan bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung. Jika kalian melihat gendering perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar, maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal selama-lamanya.”

Saat putra-putranya terjun di medan peperangan, mereka berperang dengan gagah berani. Semangatnya berkobar siap menerkam musuh-musuh Allah. Namun, akhirnya mereka gugur satu persatu sebagai syuhada’. Saat keguguran keempat putranya disampaikan kepada ibunya, Al Khanza’, sungguh kita mendapatkan ungkapan ketegaran seorang ibu, “Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih sayang-Nya”.

Sungguh, kesholehahan seorang ibu akan melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Kegigihannya dalam mendidik anak menjadi pondasi pengokoh keimanan dan ketaqwaan sebagai bekal dalam kehidupan.

Bibit Unggul untuk Generasi Idaman


 



Mulai dari Memilih Calon Pendamping

Memilih bibit unggul adalah langkah pertama yang harus dilakukan seseorang jika kelak ingin mendapatkan generasi idaman. Seorang calon ibu harus memilih calon suami yang unggul, begitu pula sebaliknya bagi seorang calon bapak. Tak asal sembarang pilih. Kegagalan dalam memilih bibit unggul seperti  menanam tanaman di tanah yang gersang. Tumbuh dan berkembang namun hasilnya jauh dari harapan.

Merancang generasi idaman harus dimulai saat mencari calon pendaping. Seorang laki-laki harus memilih calon istri yang sholehah, karena calon istri kelak akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Mereka kelak yang akan mengasuh, merawat dan mendidik anak-anak. Begitu pula seorang perempuan,ia juga harus memilih calon suami yang sholeh. Suami yang mampu melindungi, menjaga, membimbing dan mengarahkan istri dan anak-anaknya.

Secara khusus Rasulullah memberikan empat kriteria dalam memilih bibit unggul. Pertama; hartanya, kedua; keturunannya, ketiga; kecantikannya, keempat; agamanya. Dari keempat kriteria tersebut, Rasulullah menempatkan agama menjadi pertimbangan utama. Agama ini pula yang akan menjadi pondasi untuk membangun keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah.

Abdullah bin Mubarok, Imam Bukhori dan Seorang Pemuda

Abdullah bin Mubarok adalah seorang ulama tabi’in di Madinah. Bapaknya bernama Mubarok, seorang budak dan penjaga pohon anggur. Suatu ketika, sang majikan datang kepadanya untuk diambilkan buang anggur yang paling manis. Dengan segera, Mubarok memilihkannya dan memberikan kepada majikannya. Namun saat dirasakan, bukan rasa manis yang didapat, namun rasa masam. Sang majikan tersebut memerintahkan kembali  untuk mencarikan anggur yang paling manis. Begitu mendapatkan, Mubarok memberikan kepada sang majikan, namun lagi-lagi anggur tersebut bukan anggur yang manis. Begitulah seterusnya sampai tiga kali sang majikan tidak mendapatkan anggur yang manis dari budaknya tersebut.
Akhirnya, sang majikan bertanya apakah Mubarok tidak bisa membedakan anggur yang manis dan anggur yang masam. Dengan penuh hormat, Mubarok menjawab bahwa dia belum mengetahui mana anggur yang manis karena belum pernah merasakan, ia hanya diperintah untuk menjaga dan merawatnya. 

Melihat mewara’an dan kezuhudan budaknya, sang majikan kemudian menceritakan bahwa ia memiliki seorang putri, sudah banyak yang melamarnya, tetapi belum ada satupun yang berkenan.  Ia meminta pendapat Mubarok seperti apa pendamping bagi anaknya tersebut. Mubarok menjelaskan bahwa semasa jahiliyah orang Yahudi dan Nasrani lebih suka memilih pendamping bagi anak-anaknya yang memiliki kecantikan dan ketampanan. Sementara masa Rasulullah lebih mendahulukan kesholehan dan ketaqwaan, adapun saat ini manusia lebih memilih calon pendamping yang memiliki harta dan kedudukan.

Dengan jawaban tersebut, sang majikan merasa mantab telah menemukai calon pendamping bagi anaknya, tak lain adalah budak yang ada dihadapannya. Dengan agak memaksa, sang majikan menawarkan anaknya kepada Mubarok. Singkat kata, Mubarok dinikahkan dengan anak sang majikan. Dari pernikahan ini lahirlah seorang ulama besar yang dermawan, zuhud, pejuang dan ahli ibadah bernama Abdullah bin Mubarok. Abdullah bin Mubarok lahir dari bibit unggul kedua orang tuanya.

Imam Bukhari juga tidak jauh berbeda. Ia lahir dari keluarga yang alim. Ayahnya seorang ahlu hadist, dan meninggal saat Imam Bukhori berusia 10 tahun. Sebelum meninggal, sang ayah mengungkapkan bahwa ia meninggalkan banyak harta yang sedikitpun tidak didapatkan dari cara yang haram.

Sepeninggal ayahnya, Imam Bukhori menjadi yatim. Ia dalam kondisi buta sejak kecil. Suatu ketika, ibunya bermimpi bertemu dengan kholilullah Ibrahim as. Yang menyatakan bahwa Allah menyembuhkan anaknya karena doa seorang ibu yang sampai kepada-Nya.Sejak saat itu, Imam Bukhori mampu melihat. Mulailah ia menimba ilmu dengan berbagai ulama. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan bekal yang ditinggalkan ayahnya.  Akhirnya ia menjadi seorang ulama besar dan ahlu hadits sepanjang zaman. Imam Bukhori lahir dari benih yang unggul.

Ada cerita menarik yang pernah dikisahkan seorang teman. Pada tahun 1980-an, ada seseorang pemuda naik kereta api jurusan Jakarta-Yogyakarta. Saat berada di kereta api, ia bersin dengan mengucapkan ‘alhamdulillah’. Tiba-tiba ada suara samar-samar menyahutnya, ‘yarhamukallah’. Secara spontan orang tersebut menjawab, ‘yahdikumullah wa yuslih balakum’. Selesai menjawab, ia menoleh ke arah suara tersebut, ternyata didapati seorang perempuan dengan jilbab putih, padahal saat tahun 1980, orang berjilbab sesuatu yang masih langka.

Akhirnya tergerak hatinya dengan menyodorkan kertas dan bulpen, meminta alamat orang tuanya. Dalam batin pemuda ini, tentu orang tuanya adalah orang yang sholeh karena mampu mendidik anaknya menjadi anak yang sholehah.

Beberapa hari kemudian ia datangi alamat tersebut. Saat dibukakan pintu, tampak seorang bapak yang sejuk tatapan matanya, kemudian ia dipersilakan masuk. Setelah berada didalam, pemuda tersebut mengungkapkan kedatangannya, pertama untuk silaturahmi, kedua untuk tholabul ilmi karena yakin orang tua tersebut adalah orang yang sholeh. Ketiga; untuk menjadi bagian dari keluarga orang tersebut, dengan kata lain ingin melamar anaknya.

Bapak tersebut kaget. Kemudian bertanya, ‘anak saya yang mana?. Karena anak saya ada  5 semuanya perempuan”. Pemuda tersebut kaget. Apalagi saat ditanya, siapa nama anak yang akan dilamar tersebut. Dimana kenalnya. Dengan malu-malu akhirnya pemuda tersebut menceritakan kisahnya saat di kereta. Ia yakin, anak yang sholehah tentu lahir dari keluarga yang sholeh.

Dengan kisah tersebut, akhirnya bapak tersebut faham, ia meminta pertimbangan kepada anaknya dan anaknya menyetujuinya. Setelah itu, bapak tersebut menikahkan anaknya dengan pemuda tersebut dengan mahar pena yang dipakai untuk menulis alamat rumahnya. Sekarang pemuda tersebut memiliki 6 anak. Seorang meninggal dan 5 anak lainnya adalah para penghafal al Qur’an. Subhanallah.
Memilih bibit unggul harus dimulai sejak dini. Orang tua yang sholeh akan melahirkan anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tak ada pilihan lain, kecuali memulai dari diri sendiri  menjadi sholeh, bertaqwa dan taat menjalankan perintah Allah. Dari situlah akan terpancar keluarga dengan generasi-generasi pilihan masa depan.