Bangun Keluarga Karena Allah

Bangun Keluarga Karena Allah

Membangun keluarga semata-mata karena Allah menjadikan masalah yang berat terasa ringan. Berbagai problem dapat diselesaikan dengan tepat. Ibarat perahu, ketika berlayar, antara nahkoda dan penumpang memiliki arah dan tujuan yang sama. Terikat dengan tautan hati, satu tujuan semata-mata mencari keridhoan Allah.

Ali bin Abi Thalib adalah menantu Rasulullah yang miskin. Istrinya Fatimah. Ia pernah menyewakan tenaganya kepada seorang Yahudi untuk menimba air dengan hadiah satu biji korma untuk satu timba. Begitu pula Fatimah, ia banyak menggiling gandum sampai tanganya melepuh, semua kesulitan tersebut dihadapi dengan tegar. Justru kesungguhan Ali bin Abi Tholib tersebut menjadikan Fatimah semakin mencintai suaminya.

Problem dalam Keluarga

Perjalanan berumah tangga tidak selamanya mulus. Mesti ada problem yang mesti diselesaikan. Baik kaitannya dengan hubungan suami istri, anak, kerabat dan lainnya.
Rasulullah pernah mendapatkan istrinya saling cemburu. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan perhatian dari Rasulullah. Hal biasa terjadi pada perempuan. Namun Rasulullah menyikapinya dengan bijak dan penuh perhatian. Kecemburuan tersebut akhirnya luntur menjadi cinta dan kasih sayang.

Rasulullah juga pernah menghadapi tuntutan istri-istrinya dalam hal keduniaan. Sampai-sampai ia harus menyendiri beberapa saat. Tidak ada jalan lain mengadu kecuali kepada Allah SWT. Namun ketika disampaikan kepada istri-istrinya, apakah lebih menginginkan keduniaan ataukah akherat. Maka mereka serempak lebih menginginkan akherat. Dunia hanya wasilah dan sementara, namun akherat adalah kekal. Betapa pondasi keluarga semakin kokoh saat persoalan datang jika dibangun semata-mata karena Allah.

Keluarga yang Tegar Ujian

Ujian bagian dari tabi’at perjalanan seorang aktivis. Termasuk didalamnya adalah keluarga, baik anak maupun istri. Mereka adalah bagian dari ujian. Jika gagal, berat untuk bicara perjuangan Islam, apalagi iqomatuddin. Allah menyebutkan istri dan anak sebagai ujian dalam firmannya surat At Taghabun: 14,15, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Imam Asy Syafi’i ketika ditanya mana yang lebih baik bagi seseorang, apakah hidup dengan tenang atau hidup dengan ujian. Beliau menjawab: ‘Seseorang tidak akan hidup dengan tenang setelah mereka diuji. Sesungguhnya Allah menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, maka tatkala mereka bersabar, Allah-pun memberikan ketenangan hidup pada mereka. Maka, janganlah seseorang menyangka bahwa dirinya terlepas dari kepedihan sama sekali.’

Kadang dalam keluarga, selain diuji dengan anak dan istri, juga diuji dengan harta. Baik dalam kondisi lapang maupun sempit rezkinya. Dalam keadaan lapang, seorang mukmin senantiasa bersyukur kepada Allah dengan menunaikan hak-hak atas harta yang dimilikinya, sementara dalam kesempitan ia akan bersabar, tidak berburuk sangka kepada Allah. Kesabaran inilah yang akan mendatangkan pertolongan Allah dan dimudahkan dalam segala urusan yang melingkupinya.

Kadang Allah menguji dengan sakit, ketakutan, lapar, peperangan dan jihad. Keluarga-keluarga yang tegar menghadapi ujian Allah menjadi kunci untuk menapaki jalan iqomatuddin bagi seorang aktivis.

Satukan Hati untuk Mencintai Allah

Cinta menjadi unsur terpenting dalam ibadah. Cinta dengan ketundukan, merendahkan diri dan ketaaan secara mutlak tidak boleh terbagi. Ia khusus untuk Allah. Tidak boleh selain-Nya. Jika terbagi, berarti kita membagi ketundukan dan ibadah kita kepada selain Allah. Artinya kita telah berbuat dosa paling besar, yaitu syirik. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 165, “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.”

Cinta yang tidak mengandung unsur ketundukan dan perendahan diri, menjadi bagian dari fitrah dan tabiat manusia. Mencintai keluarga, anak-anak, orang tua, sahabat, harta, dunia dan  bahkan cinta kepada lawan jenis. Semuanya tidak melampaui cintanya kepada Allah. Cinta itu tidak boleh melalaikan Allah. Allah mengancam bagi yang melalaikan dengan selain-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surat At Taubah ayat 26, “Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”

Jika cinta ini benar, bersatu dalam jiwa, tidak akan marah saat miskin, tidak putus asa meskipun menderita. Tidak menyesal dikala ajal datang.Tidak bersedih hati atas takdir yang menimpanya. Tidak berkecil hati atas kemalangan yang datang. Laksana kawan, se-iya, sekata, setujuan. Ia akan menikmati jalan yang diempuh dan dilalui meskipun terjal dan mendaki.

Karena itu, tanamkan cinta yang benar dalam keluarga. Baik terhadap istri dan anak-anak. Cintai yang kekal dengan sepenuh hati, niscaya Allah akan mencintai Anda dan keluarga! Besarnya kebahagiaan akan datang sebanding seberapa besar Anda menempatkan cinta kepada Allah di atas cinta kepada selain-Nya.
Bangunan cinta yang benar inilah akan memperkokoh pondasi keluarga. Cinta yang hadir semata-mata karena Allah, sebagaimana cintanya para Nabi, Rasul, orang-orang sholeh. Cinta kepada Allah diatas segala cinta yang ada di dunia.