Lebih Dekat dengan Masjid Tertua di Tarakan

Masjid Jami' Nurul Islam 
Namanya Masjid Jami’ Nurul Islam Markoni, berada di Kelurahan Pamusian, tidak jauh dari pusat kota Tarakan. Menurut masyarakat setempat, ketika terjadi peperangan antara Sekutu dan Jepang, masjid ini menjadi benteng tempat berlindung (shelter) warga sekitar. Pada tahun 2013 ini, masjid ini telah berusia 109 tahun.

Masjid tersebut  dibangun diatas lahan hibah dari warga keturunan Tionghoa kepada masyarakat Markoni pada saat itu. Tepatnya pada tahun 1904, seorang keturunan Tionghoa menghibahkan tanah berukuran 20×20 meter kepada masyarakat sekitar. Oleh warga, tanah  dibangun sebuah masjid dengan dana swadaya.

Seperti diketahui, di kala Perang Dunia kedua, masjid ini sempat menjadi basis perlindungan masyarakat sipil ketika terjadi perang antara tentara sekutu dan Jepang. Dengan kata lain, masjid ini adalah saksi bisu sejarah penting dunia tatkala pecah perang antara pihak kolonial Belanda yang didukung sekutu dengan tentara Jepang yang hendak merebut Kota Tarakan yang kaya akan sumberdaya alam, khususnya minyak dan ga s.

Pembangunan masjid ini dimulai pada tahun 1906 dengan konstruksi lantai semen, berdinding papan dan beratap sirap. Lantaran masjid ini adalah yang pertama, maka tak dapat dipungkiri jumlah jamaah yang beribadah didalamnya tiap hari terus bertambah, khususnya pada saat pelaksanaan salat Jum’at sehingga seringkali jamaah tidak tertampung. Lalu muncul inisiatif untuk merenovasi total guna menambah ruang didalamnya. Itu terjadi pada tahun 1963.

Renovasi yang kedua dilakukan pada tahun 1975. Pada renovasi kali ini, hampir sebagian besar bentuk bangunan asli berubah. Kala itu, masjid ini dibangun berkonstruksi dua lantai dengan biaya pembangunan berasal dari sumbangan masyarakat dan pemerintah kota dengan total luas lahan pembangunan berukuran 35 x 35 meter persegi dengan kapasitas 1.500 jamaah. 

Pada tahun 2004, oleh pemerintah kota dibangunkan menara masjid setinggi 24 meter lebih. Menara ini menambah megah dan kokoh serta kharismatik masjid tersebut. Selama bulan puasa ini, setiap hari tidak kurang dari 200 orang melakukan tadarus Al Qur'an, serta setiap hari juga melakukan buka puasa bersama.

Terhitung sejak awal berdiri hingga saat ini sudah terjadi 7 kali penggantian ketua masjid. Adapun ketua Masjid Jami’ Nurul Islam yang pertama adalah (alm.) H Abdul Hamid, diganti dengan (alm.) H Abdul Karim, disusul (alm.) B Achmadi, lalu (alm.) H Sajid Abdullah, (alm.) H Pdlin, H Abdul Muis dan kini H Djamaluddin.