Jejak-Jejak Peperangan di Tarakan



Tugu Australia

Tugu Australia
Tugu australia merupakan salah satu bukti sejarah pergolakan politik perang dunia II di Tarakan, Berlokasi di jalan pulau Kalimantan Kp.Satu 3 km dari pusat Kota atau sekitar 400 meter sebelah timur Kantor Walikota Tarakan. Tugu ini dibangun untuk mengenang 225 tentara Australia Bridge ke-26 devisi 9 yang gugur dalam peperangan pembebasan Tarakan dari tugas kesatuan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, berasal dari negara bagian Victoria dan Australia Selatan.

Bangunan ini berbentuk persegi panjang dan pada awalnya monumen tersebut juga difungsikan sebagai tanda pintu gerbang memasuki komplek makam yang berada di bagian utara, atas permintaan Pemerintah Australia seluruh makam di pindahkan ke negara asalnya.


Tugu Perabuan Jepang

Tugu Perabuan Jepang
Tugu perabuan Jepang terletak di jalan Markoni Gg.III dengan jarak 2 km dari pusat Kota Tarakan ini merupakan saksi sejarah kehadiran orang-orang Jepang ini berbentuk segi empat pipih di lengkapi dengan tulisan kanji. Tinggi bangunan 2 m, lebar 50 cm bagian dasarnya di buat tiga tingkatan dilengkapi dengan 2 lubang kecil berdiameter 5 cm hal terdapat tulisan kanji yang terdapat pada bagian depan sisi kiri tugu.

Bangunan persegi ini sebagai tempat upacara penguburan abu jenazah orang-orang Jepang yang meninggal, tugu ini di bangun tahun 1933, hal ini merupakan bukti sejarah awal kedatangan orang-orang Jepang di Tarakan yang kemungkinan sebagai pedagang dan selanjutnya Trakan di jadikan rute ekspansi tentara Jepang bagian Timur Indonesia pada masa Perang dunia II.

Bunker dan Meriam
Perang dunia ke-II juga meninggalkan  jejak sejarah stelling  atau tempat pengintaian dan perlindungan. Bangunan ini mirip bunker, dimana ruangan yang berada di bawah permukaan tanah sebagai tempat persembunyian, namun tidak berupa lorong atau rongga. Sebagian besar bangunan tertanam dalam tanah dan yang tampak di permukaan hanya bagian atas sekaligus penutup. Lokasinya tepat di sebelah timur Hangar Mission Avation Fellowship ( MAF) di Kawasan Bandara Udara Juwata.


Meriam peninggalan Belanda
Selain meriam, terdapat 10 bunker di Kota Tarakan yang terletak di Juawata Laut dan Peningki Lama. Pembuatan bunker tersebut pada kurun 1936-1939. Bentuk dan gaya bangunan yang dikhususkan untuk sarana pertahanan perang.
Meriam peninggalan Perang Dunia II ini dapat ditemukan di Juwata dan Peningki Lama Karungan. Meriam-meriam itu masih kokoh dapat dipasang di puncak-puncak bukit menghadap ke laut lepas. Namun sayangnya karena tak terawat meriam-meriam itu sudah berkarat bahkan ada yang patah dan dibiarkan begitu saja. Dari arah meriam-meriam itu bisa dibayangkan bagaimana dulu dengan mudah lawan yang datang dari lautan bisa langsung digempur.

Wash Tank

Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), perusahaan perminyakan Belanda di Tarakan. Bekas penghancuran itu pun masih bisa dilihat, antara lain 22 menara pompa minyak yang tersebar di Kampung Empat dan Kampung Enam, Tarakan Timur. Tidak jauh dari tempat itu juga ada tangki hitam besar yang kini berisi air untuk membersihkan minyak (wash tank).
Wash Tank, tempat membersihkan minyak