Belum Turun Mimbar, Langsung di Rangkul Jamaah Sambil Menangis

Suasana haru, berangkulan, bermaafan
Agak terkejut memang. Saat selesai khutbah, belum sempat turun mimbar, para jamaah berebutan merangkul sambil menangis. Tentu yang pertama kali adalah petugas bilal dan imam, karena mereka yang paling dekat. Kami pun hanya bisa mengikuti ritme para jamaah.

Semuanya merangkul satu persatu. Tidak sedikit yang sambil menangis sesenggukan. Baik tua, muda nampak meneteskan air mata. Minimal matanya sembab dan memerah. Kamipun hanya bingung saat melihat mereka sambil merangkul. Kami ikuti saja gerakan mereka. Mereka berjejer antri untuk bersalaman dan berangkulan.

Kami hanya diam. Tak keluar air mata. Namun, sesekali kami juga merasa sedih. Entah, kami nggak tahu apa yang harus kami lakukan. Hanya mengikuti arus jamaah, mereka berdatangan, bersalaman, merangkul dan kebanyakan sambil menangis.

Saat itu, kami menganggap mungkin ini tradisi, selesai Ramadhan, bersedih harus meninggalkan bulan yang penuh barokah. Sedih, ditinggal bulan yang banyak Allah lipatgandakan pahalanya.

Selesai berangkulan dan bersalaman, kami pulang. Sampai rumah saya tanyakan kepada tua rumah. "Apakah tradisinya sini, setelah selesai langsung berangkulan sambil menangis", tanya kami. Tuan rumah menjawab, "Tidak ustadz, itu bukan tradisi, mungkin mereka terharu". Kami agak kaget. "Apalagi mereka mempunyai keyakinan, yang pertama kali merangkul khatib, mereka akan mendapatkan barokahnya", lanjutnya. "Astagfirullah. Saya kira tradisi", jawab kami.