Shalat Idhul Fitri di Perkampungan Terapung dengan Tradisi NU

Saat khutbah
Satu pengalaman yang tidak terlupakan adalah melaksanakan shalat Idhul Fitri di perkampungan terapung, pinggir laut, masih di Juata Laut, Tarakan Utara. Saat 1 syawal bertepatan dengan 'air jadi' istilah air pasang bagi pelaut dimana saat mereka panen ikan, udang, kepiting dan lainnya. Sehingga saat-saat itu, suasana kampung biasanya sepi, karena kebanyakan masyarakat berada di tambak atau di pabrik udang. Hal ini terjadi 2 kali selama sebulan yaitu 3 hari menjelang dan setelah bulan purnama dan 3 hari menjelang dan setelah awal bulan.


Sesaat sebelum khutbah
Karena saat itu Idhul Fitri, masyarakat secara otomatis libur melaut. Mereka berbondong-bondong menunaikan shalat Ied. Tampak laki-laki maupun perempuan, anak-anak dan remaja. Mereka ramai datang ke masjid.

Dalam spanduk terpampang Imam Ust. Saifullah dari Jawa Timur (Madura), Bilal Bp. Yunus dari Sulawesi dan Khatib Abdul Khoir, M. Ag dari Solo (Jawa Tengah). Karena pertama khatib dalam tradisi NU, kosentrasi kami tentang tata cara khatib. Setelah shalawat, khatib naik ke mimbar dan salam kemudian duduk. Bilal mengumukan agar jamaah tenang.Setelah itu baru Khatib memulai khutbah.

Mendengarkan khutbah
Kami sebelumnya bertanya kepada para Ustadz di Tarakan, tentang tata cara ini. Tapi inilah pertama kali kami praktek. Kami ingin, khutbah sekali tanpa ada duduk kedua. Ternyata, takmir mengatakan, "Jangan nanti bisa geger di sini". Akhirnya, sebagaimana saran ustadz di Tarakan, yang telah terbiasa.

Setelah selesai, ternyata jamaahnya luar biasa banyak. Hampir 700 orang. Sementara infaqnya sebanyak 4.800.000 yang tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 2 juta. "Selama saya disini baru kali ini paling banyak jamaahnya dan infaqnya", kata Haris, takmir masjid kepada kami.  "Namun, ditengah-tengah khutbah tadi saya khawatir akan geger jika sekali khutbah tanpa duduk", ungkapnya. Kami hanya tersenyum saja mendengarnya, alhamdulillah batin kami.
Khusuk mendengarkan