Catatan Dakwah di Tarakan (Bagian 2)

Berbeda dengan daerah lain, Tarakan memiliki ciri dan karakter tersendiri. Sebagai tempat transit ke berbagai daerah, wilayah ini sangat strategis baik secara ekonomi, politik maupun potensi dakwah.

Kultur Masyarakat
Tarakan didiami terbagai  suku. Dengan jumlah penduduk lebih dari 230.000 dengan Islam sebagai mayoritas. Suku terbesar adalah pendatang dari Jawa dan Sulawesi. Sementara suku Asli berasal dari suku Tidung, banyak menempati daerah-daerah pinggir laut. Suku Jawa dan Sulawesi banyak menguasai posisi strategis, baik ekonomi maupun politik. Tak heran menjelang pemilihan walikota, biasanya terjadi persilangan antara suku untuk menduduki calon walikota dan wakil walikota.

Luas wilayah yang kecil, mampu di tempuh tidak lebih 30 menit, akses ke tempat-tempat strategis sangat cepat dan mudah. Bahkan perkenalan antara tokoh, baik lintas partai, lintas kelompok terjadi dengan mudah. Akan tetapi mereka sangat toleran dan familiar satu dengan yang lain. Hal ini tidak lepas, secara status mereka sebagai pendatang sehingga mudah berkelompok dengan daerah asal mereka. Citra pendatang dari Jawa cukup positif, sehingga mampu diterima dengan baik.

Cuaca secara umum sering terjadi mendung dan hujan dengan intensitas ringan dan sedang. Tidak ada musim penghujan dan kemarau. Hujan sering terjadi malam hari atau pagi hari menjelang dan setelah Subuh. Hal ini berpengaruh dengan aktivitas masyarakat, baru nampak penuh secara aktivitas di atas jam 9. Untuk daerah pesisir laut, saat air pasang, yaitu seminggu awal bulan dan seminggu bulan purnama, masyarakat banyak yang pergi ke tambak, hal ini juga berpengaruh dengan jamaah di masjid, biasanya agak sepi.Sebaliknya, saat air mati, mereka banyak beraktivitas di rumah. 

Masjid dan Bacaan Imam
Masjid secara umum besar dan bagus. Bahkan nampak megah dibanding dengan rumah-rumah masyarakat sekitar banyak yang masih berasal dari kayu dan terapung. Masjid juga banyak dijumpai ditempat-tempat strategis, pinggir jalan dan dengan bangunan dan ornamen yang mencolok.

Bacaan imam secara umum bagus, tartil dengan makhroj yang benar. Hal ini pula yang menjadikan dai-dai yang dikirim dari Jawa shock saat melihat kondisi tersebut. Biasanya, di Jawa masalah bacaan tidak begitu diperhatikan dengan baik.

Walaupun mereka secara pemahaman Islam masih dasar dan umum. Dai yang dikirim yang dilihat pertama kali adalah bacaannya. Ini sangat berpengaruh terhadap persepsi jamaah terhadap dai dan apa yang akan disampaikan.

Pernah ada teman yang bacaannya dianggap kurang bagus langsung ditegur ditengah-tengah jamaah. Bahkan setelah itu, teman tersebut diberi buku tentang bagaimana mempelajari bacaan tartil dalam membaca Al Qur'an. Ada kisah lagi, seorang santri dari Jawa yang ditugaskan merasa tertekan karena sering ditegur masalah bacaannya. Akhirnya, santri tersebut tidak krasan dan pulang ditengah tugas. Ini adalah contoh-contoh kasus, bagaimana persepsi mereka terhadap bacaan dai.