Dua Kutub Besar, NU dan Muhammadiyah
Secara umum ada dua kutub besar di Tarakan, kutub NU dan Muhammadiyah. Sementara kelompok seperti Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, Salafi secara amalan dianggap sebagai bagian dari Muhammadiyah. Secara amalan, kultur NU sangat mencolok, walaupun mereka tidak mau disebut sebagai NU atau Muhammadiyah.
Di antara kultur amalan NU seperti doa Qunut waktu sholat Subuh, sementara Muhammadiyah tidak ada. Hal lain seperti dzikir bersama setelah shalat, saling bersalaman keliling setelah doa, tarawih 23 rekaan, shalat jum'at dengan dua adzan dan lain-lain. Sementara Kutub Muhamadiyah berbeda, tidak ada doa dan dzikir bersama, tarawih 11 rekaat, shalat Jum'at dengan sekali adzan dan lainnya.
Hal yang menarik, walupun sebagian besar amalannya NU, mereka tidak mau disebut sebagai warga NU. Tidak mau dikotak-kotak dengan kelompok. Hubungan antar tokoh agama cukup baik, terutama di MUI, BAZ, dan Depag. Selain sering bertemu diberbagai kegiatan keagamaan.
Beberapa masjid yang kami jumpai menyatakan bukan NU, walupun secara kultur sangat dekat dengan NU. Hal yang membedakan lagi, mereka cukup menerima jika ada dai pendatang khususnya dari Jawa, apalagi jika secara bacaan sangat baik. Artinya, secara umum mereka cukup terbuka dan menerima keberadaan dai dari Jawa.
Kasus terorisme juga menempati posisi tersendiri di hati masyarakat. Beberapa kali jika di sebut Jawa, khususnya Solo, langsung bertanya, "Dari Ngruki", seakan dengan penuh selidik. Namun demikian, antusiasme untuk mendengar pengajian-pengajian keislaman khususnya di bulan Ramadhan sangat bagus.