Catatan Dakwah di Tarakang (Bagian 4)



Kutub LDII
Selain kutub NU dan Muhammadiyah, ada kutub ketiga yaitu Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Secara jumlah, LDII bisa jadi menempati urutan ketiga setelah NU dan Muhammadiyah. Jumlahnya lebih besar dari Hidayatullah, Wahdah Islamiyah, salafi atau kelompok-kelompok Islam lain yang ada di Tarakan. Beberapa tempat terdapat papan nama bertuliskan LDII. Bahkan, 300 meter ke arah utara dari Islamic Center, LDII juga membangun masjid yang cukup megah, hampir menyamai Islamic Center Baitul Izzah.

Massa LDII banyak di daerah pinggiran atau pesisir laut. Menurut beberapa sumber, anggota LDII di Tarakan banyak berasal dari Bugis. Namun demikian, di daerah perkotaan juga nampak papan nama LDII, seperti di daerah Pamusian, dll.

Saat kami berkunjung ke Badan Amil Zakat (BAZ) Tarakan awal Ramadhan lalu, dimana BAZ membuka pendaftaran calon dai yang mau dikirim ke berbagai daerah, khususnya daerah pedalaman, banyak anggota LDII sebagai peserta. “Mereka peserta dai yang akan dikirim ke berbagai daerah pedalaman. Yang di bawah tadi kebanyakan dari LDII”, kata panitia kepada kami sambil menunjuk ke arah para dai yang akan dikirim ke daerah tersebut.

Dalam beberapa hal, LDII memiliki militan yang tinggi. Selain rasa solidaritas yang besar. Salah seorang menceritakan kepada kami saat ada kebakaran yang melanda perkampungan, LDII dengan sigap memberikan bantuan lengkap dengan peralatan dapur termasuk kompor kepada masing-masing keluarga yang terkena musibah tersebut.

Nampaknya pola dakwah dengan menyisir daerah pinggiran menjadi model tersendiri, selain dengan bantuan sosial dan solidaritas antar sesama anggota. Pola ini dilakukan LDII untuk merekrut daerah pinggiran yang masih sangat awan terhadap agama Islam.

Non Muslim dan Kerja Misionaris
Non muslim, baik Nasrani maupun  yang lain juga memiliki basis tersendiri di Tarakan. Baik gereja, klenteng dan lainnya juga terdapat di Tarakan, tetapi masjid lebih mendominasi dengan letak yang strategis dan terlihat megah. Namun, jika menuju ke luar Tarakan, baik ke arah Utara maupun Timur, gereja-gereja mulai nampak dan menonjol, termasuk yang pernah kami paparkan ketika menuju Juata Laut.

Rencana Gereja di Pedalaman
Misionaris di balut kerja kemanusiaan dengan gigih melakukan misi ke daerah-daerah pedalaman. Bahkan mereka memiliki pesawat pribadi dengan jumlah yang tidak sedikit. Kami memang belum melihat langsung pusat misionaris dengan pesawat-pesawat pribadi dengan misi kemanusiaan di daerah terpencil tersebut, namun sumber yang sangat dekat dengan gerakan misi tersebut berjanji untuk mengajak kami berkunjung ke tempat pesawat-pesawat pribadi diberangkatkan ke daerah terpencil untuk bertemu direkturnya. Kamipun menyanggupi, walaupun ia bertanya kemampuan bahasa inggris. Karena kami yakin, merekapun bisa berbahasa Indonesia, karena telah puluhan tahun menetap di Tarakan.