Catatan Dakwah di Tarakang (Bagian 5)



Biaya Hidup Tinggi
Potensi ekonomi di Tarakan cukup besar. Sebagai kota terkaya ke-17 di Indonesia, tingkat pendapat penduduk tinggi. UMR hampir 2 juta. Sementara mata pencaharian masyarakat kebanyakan pedagang, pelaut, petambak dan pekerja di berbagai perkebunan dan perminyakan. Tingkat konsumeritas tinggi. Berbagai bentuk bahan makanan laku dijual. Tak heran, di Tarakan biaya hidup cukup tinggi.

Saat Ramadhan, menjelang berbuka, banyak masyarakat yang berkerumun di tempat-tempat penjualan makanan. Alasan kesibukan dan kerja, sebagian besar masyarakat lebih suka membeli daripada memasak sendiri. Ini pula menjadikan berbagai aneka makanan laku di jual. Toko dan warung makan juga penuh dengan pembeli. Begitu pula berbagai tempat perbelanjaan. 

 Potensi Ekonomi dan Zakat

Potensi zakat cukup besar. Nampak, selama Ramadhan, gerai-gerai zakat bertebaran di berbagai sudut jalan dan pusat perbelanjaan ataupun tempat-tempat strategis. Baik milik BAZ, BMH (Hidayatullah), Wahdah Islamiyah dan PKPU.


Pemerintah kota Tarakan tahun 2013 ini mengalokasikan 500 juta uang zakat diserahkan kepada BAZ. Sementara BAZ sendiri mampu mengumpulkan uang miliaran rupiah dari masyarakat. Tak heran, ketika ada isu adanya penyelewengan dana zakat untuk politik, Ketua Executiv BAZ Syamsi Sarman dengan nada tinggi  melepaskan baju seragam BAZ di hadapan walikota dan menyatakan siap mempertanggung jawabkan di dunia dan akherat. Menurutnya, jangankan 500 juta yang dari pemerintah, 4,5 miliar dana BAZ siap dipertanggungjawabkan.

Artinya, betapa besar potensi zakat yang terkumpul di Tarakan. Beberapa sumber yang kami temui, BAZ memang paling banyak mampu mengumpulkan dana masyarakat. Selain itu BMH (milik Hidayatullah), Wahdah dan lainnya juga tidak kalah besarnya. Bahkan kisaran ratusan juga rupiah hanya dari gerai zakat yang dibuka.

Pernah seorang takmir masjid menceritakan, masjidnya tidak mau menerima dana zakat, karena tidak dapat dialokasikan untuk pembangunan masjid. Maka masyarakat mencari akal lain dengan mengatakan bahwa yang ia berikan adalah infaq dan shodaqah, padahal sebenarnya dana zakat. Kesadaran masyarakat untuk membayar zakat mal juga cukup tinggi.

Contoh lain, dana masjid dari infaq jama’ah cukup besar. Hampir tiap-tiap masjid memiliki saldo cukup banyak. Seperti masjid tertua, Nurul Islam sebagaimana diungkap Radar Tarakan, tahun 2013 ini saja memiliki saldo sebanyak 260 juta lebih. Masjid Al Amin pernah sampai 300 juta saldonya. Masjid yang pernah kami mengisi Jum'at, Darun Najah yang berada di daerah Karanganyar Tengah, masjidnya tidak terlalu besar, juga tidak kecil. Namun demikian saat takmir mengumumkan jumlah saldo kas masjid nilainya lebih dari 88 juta. Sungguh, potensi yang fantastis!