Selesai mengurus jenazah khalifah Sulaiman bin Abdul Malik,
Umar bin Abdul Aziz sejenak ingin merebahkan tubuhnya karena lelah. Melihat
ayahandanya mau istirahat, Abdul Malik, salah seorang putra Umar bin Abdul Aziz
yang saat itu baru berumur 17 tahun mendatanginya seraya berkata, “Apa yang
ingin Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”. Umar bin Abdul Aziz menjawab:
“Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada
lagi tenaga yang tersisa”. Abdul Malik: “Apakah Anda akan tidur sebelum
mengembalikan hak orang-orang yang didhalimi wahai Amirul Mukminin?”. Jawab Khalifah Umar bin Abdul Aziz: “Wahai
anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman,
nanti jika telah datang waktu Dhuhur aku akan shalat bersama manusia dan akan
aku kembalikan hak orang-orang yang didholimi kepada pemiliknya, insya Allah.”
Mendengar jawaban ayahnya, dengan sigap Abdul Malik balik
bertanya: “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu Dhuhur
wahai Amirul Mukminin?”. Kata-kata anaknya menyentak Umar bin Abdul Aziz. Kata yang membangkitkan
semangat, melenyapkan segala kelelahan serta memberi kekuatan kepadanya.
Dirangkul dan diciumlah kening anaknya seraya berucap: “Segala puji bagi Allah
yang telah mengeluarkan dari tulang sulbiku seorang anak yang dapat membantu
melaksanakan agamaku.”
Kisah Umar bin Abdul Aziz dan anaknya tersebut menegaskan
bahwa hadirnya anak sholeh membantu mewujudkan keimanan dan ketaqwaan dalam
sebuah keluarga. Bapak bertanggung jawab terhadap seluruh anggota keluarga,
sementara ibu sebagai tonggak lahirnya generasi yang bertakwa.
Memilih Istri yang
sholehah
Sebagai calon pemimpin dalam rumah tangga, seorang laki-laki
harus tepat memilih calon pendampingnya. Rasulullah SAW menyebutkan; “Wanita itu dinikahi karena empat hal:
hartanya, keturunan, kecantikan dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang
berpegang teguh kepada agamanya, tentu hal itu ckup bagimu” (HR. Muslim).
Rasulullah juga menyebutkan bahwa sebaik-baik perhiasan
adalah wanita sholehah. Istri yang hatinya selalu bersyukur, lidahnya dibasahi
dengan dzikir dan membantu dalam urusan dunia dan akherat.
Secara lebih jelas dan tegas Rasulullah menyebutkan ciri
wanita sholehah dan kebalikannya dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Hibban yang berbunyi: “Di antara
kebahagiaan adalah wanita sholehah yang apabila engkau pandang, dia membuatmu
gembira. Bila engkau pergi dari sisinya, maka dia menjaga kehormatan dirinya
dan hartamu. Dan di antara penderitaan adalah wanita yang apabila engkau
pandang, tidak menyenangkan kepadamu dan mengobral ucapannya tentang dirimu.
Apabila engkau pergi dari sisinya, dia tidak menjaga kehormatan dirinya dan
hartamu”.
Kisah Penjual Susu dan anaknya
Saat Umar bin Khattab berkeliling melihat kondisi rakyatnya, ia mendengar pembicaraan seorang gadis
dengan ibunya. Ibu tersebut ingin mencampur air dengan susu yang akan
dijualnya. Gadis itu berkata, “Wahai ibu, apakah ibu akan mencederai janji,
menipu kaum muslimin dan mendustai Amirul Mukminin, bukankah Amirul Mukminin
melarang perbuatan seperti itu?”. Ibu tersebut menjawab: “Apakah Amirul
Mukminin melihat aku melakukan hal ini?. Si gadis menjawab: “Jika Amirul
Mukminin tidak melihat kita, tetapi Allah Penguasa alam semesta ini pasti melihat
kita”.
Mendengar dialog tersebut, Umar langsung
mendatangi rumah tersebut dan ingin mengetahui siapa sebenarnya gadis tersebut.
Ternyata ia hanyalah anak penjual susu. Setelah itu, Umar langsung pulang dan
menawarkan gadis tersebut untuk dinikahi salah seorang dari anaknya. Akhirnya
anak Umar bin Khattab, ‘Ashim bin Umar menikahinya. Dari pernikahan ini lahir
seorang putri bernama Laily yang dinikahi Abdul Aziz bin Marwan. Dari
pernikahan inilah lahir seorang khalifah Agung Umar bin Abdul Aziz.
Kisah Khonza’
dan keempat putranya
Kisah Al Khansa’ banyak menghiasi kisah-kisah perjuangan. Simbol ketegaran,
keteguhan dan ketekunan seorang ibu. Al
Khanza’ lahir dan tumbuh di tengah suku bangsa Arab yang mulia yaitu Bani
Mudhar, sehingga banyak sifat mulia dalam dirinya. Ia adalah seorang yang
fasih, mulia, murah hati, tenang, pemberani, tegas, dan tak suka berpura-pura.
Ia juga seorang penyair yang sangat masyhur.
Al Khanza’ memiliki empat anak laki-laki. Dalam perang
Qodisiyah. Sehari sebelum perang, ia
menyampaikan nasehat kepada putra-putranya, “Hai putra-putraku, kalian semua
memeluk Islam dengan sukarela dan berhijrah dengan senang hati. Demi Allah yang
tidak ada tuhan selain Dia. Sesungguhnya kalian adalah keturunan dari satu ayah
dan satu ibu. Aku tidak pernah merendahkan kehormatan dan merubah garis
keturunan kalian. Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan akhirat jauh lebih
baikdaripada kehidupan dunia yang fana.
Putra-putraku, sabarlah, tabahlah, beratahanlah, dan
bertakwalah kepada Allah. Semoga kalian menjadi orang-orang yang beruntung.
Jika kalian melihat gendering perang telah ditabuh dan apinya telah berkobar,
maka terjunlah ke medan laga dan serbulah pusat kekuatan musuh, pasti kalian
akan meraih kemenangan dan kemuliaan, di dalam kehidupan abadi dan kekal
selama-lamanya.”
Saat putra-putranya terjun di medan peperangan, mereka
berperang dengan gagah berani. Semangatnya berkobar siap menerkam musuh-musuh
Allah. Namun, akhirnya mereka gugur satu persatu sebagai syuhada’. Saat
keguguran keempat putranya disampaikan kepada ibunya, Al Khanza’, sungguh kita
mendapatkan ungkapan ketegaran seorang ibu, “Alhamdulillah (segala puji
bagi Allah) yang telah memberiku kemuliaan dengan kematian mereka. Aku
berharap, Allah akan mengumpulkanku dengan mereka di tempat limpahan kasih
sayang-Nya”.
Sungguh, kesholehahan seorang ibu akan melahirkan anak-anak
yang sholeh dan sholehah. Kegigihannya dalam mendidik anak menjadi pondasi
pengokoh keimanan dan ketaqwaan sebagai bekal dalam kehidupan.