Laki-laki sholeh adalah idaman setiap wanita. Tak ada
keraguan. Kesholehan akan menghantarkan keluarga yang dibangun menjadi keluarga
sakinah mawaddah wa rahmah. Namun, mencari laki-laki sholeh bukan pekerjaan
mudah. Kultur wanita yang lebih pemalu daripada laki-laki, mudah percaya,
gampang terpedaya dengan janji-janji manis serta lebih senang dan bangga dengan
tampilan luar seakan mendapatkan laki-laki sholeh bagai barang langka, sulit
dicari, kalaupun ada tak semudah mendapatkannya. Wanita sholehah pasti ingin
mendapatkan laki-laki sholeh. Hal ini sebanding dengan laki-laki sholeh ingin
mendapatkan wanita sholehah.
Karakteristik Laki-laki Sholeh
Di antara karakter laki-laki sholeh adalah ketaatannya kepada
Allah SWT. Pribadinya adalah pribadi yang penuh dengan nilai-nilai ketaqwaan.
Pribadi ini tercermin dari sikap dan perilaku sehari-hari. Dalam amalan ibadah,
laki-laki sholeh bukan sekedar melaksanakan yang wajib sebagai gugurnya sebuah
kewajiban. Lebih dari itu, ia akan melaksanakan yang sunah seperti
sholat-sholat sunah, sholat lail, shoum sunnah dan lainnya serta menjaga untuk selalu
sholat berjamaah.
Laki-laki sholeh ikhlas dalam beramal. Tujuannya adalah
tujuan akherat, semata-mata untuk mencari keridhoan Allah. Ia sabar menghadapi
ujian dan cobaan yang menjadi tabi’at dari orang-orang sholeh untuk menaikkan
derajat ketaqwaannya. Takutnya hanya kepada Allah, bukan kepada selainNya.
Rasulullah bersabda: “Orang-orang yang
paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang sholeh. Sungguh
diantara mereka ada yang mengalami kemiskinan sehingga ia tidak memiliki apa
selain pakaian yang dipakainya. Dan ada yang diuji dengan penyakit kulit
(bisul) sehingga membawa maut. Dan diantara mereka lebih suka ditimpa ujian
daripada diberi nikmat” (HR. Ibnu Majah).
Imam Asy Syafi’i ketika ditanya, mana yang lebih baik apakah
seseorang hidup dengan tenang atau hidup dengan ujian? Beliau menjawab:
“Seseorang tidak akan hidup tenang kecuali ia telah diuji. Sesungguhnya Allah
menguji Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad, maka tatkala mereka
bersabar, Allah-pun memberikan ketenangan hidup pada mereka”.
Di antara ciri laki-laki sholeh adalah komitmennya terhadap
dakwah Islam dengan menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. Komitmen dakwahnya
tidak diragukan lagi. Dimana berpijak, ditempat itulah panggilan dakwah
berkumandang. Ia menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar sebagai perwujudan khoiru
ummah, umat terbaik sebagaimana firman Allah dalam surat Ali Imron ayat
110: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia, mengajak
yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar”. Juga perwujudan firman Allah dalam surat Al
Maidah ayat 104: “Hendaklah ada dikalangan kamu umat yang menyeru kepada
kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Mereka itulah orang-orang yang
beruntung”.
Amar makruf dengan menggerakkan dan mengajak manusia untuk
melaksanakan perintah Allah. Sementara nahyi mungkar adalah dengan mengajak dan
menggerakkan manusia untuk meninggalkan apa yang dilarang Allah. Kewajiban ini
berada dipundak setiap muslim sesuai dengan kadar dan kemapuannya. Karena itu,
laki-laki sholeh tidak bisa dipisahkan dari sifat tersebut.
Menyeru yang makruf dan mencegah kemungkaran tidak
menghalanginya walaupun mendapatkan celaan dan siksaan manusia. Rasulullah
pernah wajahnya dilepari tanah sepeninggal pamannya Abu Tholib, sampai putrinya
menangis melihatnya, hingga Rasulullah menghiburnya, “Hai putriku, janganlah
engkau bersedih hati karena Allah melindungi ayahmu. Durlu waktu Abu Tholib
masih hidup, orang Quraiys tidak berani menggangguku, kini mereka berani” (HR.
Baihaqi).
Rasulullah juga pernah diludahi wajahnya dan dilempari tanah
kepalanya saat menyampaikan kalimat tauhid kepada orang-orang Quraiys dan
berbagai perlakuan kasar lainya akibat dakwah beliau. Urwah bin Zubair ra
bercerita: “Aku bertanya kepada Ibnu ‘Ash, apakah yang diperbuat kaum Quraiys
terhadap Nabi yang paling keras? “Pernah pada suatu hari, ketika Nabi sedang
sholat di dekat Ka’bah, tiba-tiba datanglah Uqbah bin Abi Mua’ith dengan sebuah
kain dan langsung diikat pada leher Nabi SAW sehingga beliau hampir tercekik
atas perbuatan Uqbah tersebut. Di saat itu, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Ash
Shidiq ra dan menarik pundak Uqbah dan melepaskan Nabi dari cekikannya serta
berkata, “Apakah kamu akan membunuh seorang yang berkata Rabbu adalah Allah?
Padahal dia telah datang dengan membawa suatu bukti”. (HR Bukhari)
Di antara ciri yang lain dari laki-laki sholeh adalah
komitmennya perjuangan Islam. Jihad adalah bagian dari karakter laki-laki
sholeh. Hal ini merupakan hasil dari tarbiyah
yang benar. Nilai pembelaan terhadap Islam dan kaum muslimin menjadi bagian tak
terpisahkan dalam kehidupan laki-laki sholeh.
Perwatakan laki-laki sholeh adalah menjual diri dan hidupnya untuk
Allah. Jihad ini menjadi manifestasi puncak ketinggian Islam, sebagaimana
ungkapan Syaikh Abdullah Azzam, ‘Bahwa sesungguhnya tidak ada sesuatupun dari
seluruh amal-amal sholeh yang dapat menandingi jihad. Dan sesungguhnya pahala
seorang mujahid tidak dapat diimbangi
oleh sesuatupun dari amal-amal sholeh yang lain’.