Ini pengalaman menarik ketika kami mengisi khutbah Jum'at. Tiga kali sebagai khatib di tiga masjid yang berbeda, ternyata tatacaranya juga berbeda. Inilah perlunya mengetahui kebiasaan masjid dimana akan menjadi khatib Jum'at. Termasuk masalah basmalah antara jahr dan sirr juga sangat sensitif. Sebagian besar model NU, membaca basmalah dengan sirr menjadi gejolak tersendiri di hadapan jama'ah.
Pertama, saat mengisi di masjid Jami' Hidayatullah, Khutbah Jum'at tidak jauh berbeda dengan yang biasa dilakukan, seperti apa yang juga dilakukan Muhammadiyah. Biasanya, setelah takmir mengumumkan, khatib langsung salam dan dilanjutkan dengan pembukaan. Adzan cukup sekali. Pembukaanpun tanpa ragu kami mengunakan kalimat, 'fainna ashdaqal hadits kitabullah..... sampai kulu bid'atin dholalah'. Hal ini tidak ada masalah. Secara umum Hidayatullah dan masyarakat binaannya sama seperti Muhammadiyah dalam tata cara khutbah dan lainnya.
Kedua, ketika Khutbah di Masjid Nurul Bahri, Juata Laut. Disini, dengan kultur NU sebagai daerah pesisir laut, tradisi NU masih cukup melekat. Dua kali adzan. Setelah adzan pertama, seperti biasa dilanjutkan dengan sholat sunnah, kemudian muadzin membaca sholawat baru khatib berdiri dengan memegang 'pedang' alias tongkat. setelah itu, diam sebentar baru muadzin doa, selesai doa khatib salam dan duduk, sedangkan muadzin adzan ke dua. Setelah selesai adzan kedua, baru pembukaan khutbah sampai selesai tidak ada perbedaan.
Ketiga, ketika khutbah di Masjid Darun Najah, Karanganyar Tengah. Disini juga kental dengan tradisi NU, dengan dua kali adzan dan membawa 'pedang' alias tongkat. Perbedaanya setelah selesai muadzin sholawat, khatib langsung salam dan duduk, kemudian muadzin adzan kedua. Tidak ada doa sebelum adzan kedua.
Karena tidak terbiasa, saat memegang 'pedang' kami agak tersenyum. Bahkan saat khutbah ketiga, karena kami kira seperti khutbah kedua di tradisi NU, kami menunggu muadzin untuk membacakan doa, ternyata tidak ada doa, sehingga jamaah saling tolah-toleh, mengapa kami tidak segera melakukan salam pembuka. Melihat seperti itu, kami langsung tanggap dan langsung salam pembuka lalu duduk, ternyata benar, muadzin baru melanjutkan adzan kedua.
Dua Kali Bertemu Wakil Walikota
Hal yang menarik, secara tidak sengaja kami dua kali ketemua wakil walikota. Pertama saat mengisi kultum Ramadhan di Masjid Baburrahman, Juata Laut. Kedua Saat mengisi khutbah Jum'at di Masjid Darun Najah. Memang pertemuan tersebut tidak sengaja. Pada pertemuan pertama, wakil walikota mempersilahkan untuk main ke rumahnya. Ternyata belum sempat sudah ketemu yang kedua kalinya.
Inilah yang kami ungkapkan dibeberapa tulisan, untuk menemui tokoh sangat mudah. Baik tokoh pemerintahan, maupun tokoh agama. Selain tempat yang sangat kecil, interaksi mereka satu dengan yang lainnya cukup tinggi. Apalagi bulan-bulan ini, Tarakan sedang mempunyai hajat pemilihan walikota.