Di SMAN 5 Malinau Selatan, Pesantren Kilat Peserta Hanya 4 Siswa

Mengajar di kelas
Memang berbeda saat siswa Islam sebagai minoritas. Jam pelajaran agama tidak mesti ada. Ada waktunya, tapi kadang tidak ada pengajarnya. Hal ini pula yang dialami di SMAN 5, Malinau Selatan. Dari jumlah siswa sekitar 160, jumlah siswa muslim hanya 14 orang.

Pesantren kilat
Saat 'jam ibadah', sebutan untuk waktu pelajaran agama Islam, tidak semua siwa muslim mengikuti. Dari 14 orang yang ikut pelajaran antara 3 - 4 orang. Yang lain, bebas, bisa ikut bisa tidak.

Kalau di Jawa, anak SMA sudah lancar bacaan shalat dan berbagai aktivitas ibadah lainnya, di Malinau, anak SMA muslim belum tentu bisa belajar shalat. Tak heran, jika disana harus dengan sabar mengajarkan ibadah dasar, seperti shalat, wudhu dan lainnya.

Hal ini pula yang dilakukan dai FKAM, Ust. Yasir saat berkesempatan mengisi di SMA 5 tersebut. Dengan jumlah siswa yang aktif hanya 4 orang, ia harus mengajarkan materi dasar tentang rukun Islam.

Ust. Yasir juga berkesempatan mengisi pesantren kilat. Jangan bayangkan banyaknya peserta. Hanya 4 orang. Itupun sudah dianggap cukup berhasil dengan keaktifan dan kesungguhan siswa mengikuti acara tersebut.

Malinau merupakan daerah dengan mayoritas Nasrani. Kabupaten ini merupakan kabupaten yang kaya, Masyarakat terbiasa mendapatkan jatah hidup dari pemerintah daerah.
"Jam ibadah", mengajar PAI di kelas