Malinau, Kabupaten Kaya dengan Beragam Suku

Ust. Yasir bertugas di Mushola Nurul Hidayah, Desa Pelancau, Kec. Malinau Selatan, Malinau. Malinau termasuk kabupaten yang kaya. Dengan jumlah penduduk kisaran 50-60 ribu dengan APBD hampir 2,5 triliun cukup mampu hidup layak jika sekedar dibagi-bagikan kepada rakyatnya.

Dari Tarakan naik speadboat selama 3jam, kemudian naik taksi selama 3 jam dengan melintasi hutan. Daerahnya masih subur, ada perkebunan karet, kelapa sawit dan berbagai tumbuhan liar. Masyarakat sebagian besar bertani, karyawan batubara. Muslim di daerah tersebut minoritas. Di tempat Ust. Yasir bertugas hanya ada 12 KK muslim dan 1 mushola. Tidak ada masjid. Disini pula banyak muallaf.

Di Pelancau dan sekitarnya ada 4 suku. Pertama: Suku Kenya. Suku ini memiliki pendidikan yang lebih tinggi dari suku yang lain. Mempunyai pola pikir yang lebih maju. Lebih mandiri dan mampu mengikuti perkembangan masyarakat di luar. Jarang tergantung kepada pemerintah daerah karena sikap kemandirannya tersebut. 

Kedua: Suku Merap. Secara pendidikan lebih rendah daripada Suku Kenya. Agak susah di atur, karena kebanyakan mereka masyarakat yang berada atau mampu. Awalnya mendiami daerah yang banyak mengadung batubara. Kemudian dipindah dan mendapatkan kopensasi bulanan sesuai dengan tanah yang mereka miliki. Harta yang melimpah belum mampu dikelola dengan baik, banyak untuk bersenang-senang.

Kebiasaan minuman, pesta, maupun budaya berpakain adalah pengaruh dari pekerja-pekerja pendatang yang masuk ke wilayah tersebut. Mereka membawa budaya kota diterapkan di daerah pedalaman.

Ketiga; Suku Puak. Suku ini hampir sama dengan Suku Kenya dan Suku Merap. Namun, secara pendidikan masih dibawah kedua suku tersebut, belum merata. Secara pola pikir masih tradisionalis.

Keempat; Suku Punan. Suku ini secara pendidikan paling terbelakang dari ketiga suku lainnya. Pola pikir juga masih jauh dari ketiga suku lainnya. Kemandirian rendah, hidupnya tergantung kepada pemerintah daerah. Mereka terbiasa dengan suasana alami, berdiam dan bertinggal dipinggir sungai dan hutan. Suka menyendiri, kurang berinteraksi dengan suku dan daerah lain. Semangat untuk maju sangat rendah.

Masing-masing suku saling berkelompok dengan mendiami suatu daerah. Jarang mereka bergabung satu dengan lainnya. Dengan kondisi daerah yang kaya raya menjadikan mereka malas bekerja, karena jatah dari pemerintah daerah lebih dari cukup untuk biaya hidup.