Silaturahmi, Masuk Harus Makan

Silaturahmi setelah sholat Idhul Fitri
Inilah adat Sulawesi, terutama orang Bugis. Saat Idhul Fitri, jika bersilaturahmi dan masuk ke rumahnya harus melalap makanan yang dihidangkan. Jika tidak, dianggap penghinaan, atau minimal tidak menghormati tua rumah.

Sebagai seorang ustadz yang ditugaskan, tentu mereka sangat senang jika didatangi ustadz. Bahkan tak jarang, mereka yang memanggil ustadz untuk datang ke rumahnya, mendoakan dan sekaligus makan bersama. Itu pula yang kami alami saat ber-lebaran di perkampungan yang sebagian besarnya adalah masyarakat Sulawesi, tepatnya orang-orang Bugis di Juata laut.

Mereka menghormati ustadz, agar bersilaturahmi di rumahnya, berdoa dan makan bersama. Harus bersiap-siap makan beberapa kali  dalam sehari, tinggal berapa kali kita masuk rumah dan duduk.

Untuk mensiasati agar tidak sakit perut, apalagi baru selesai puasa, perut belum terbiasa, kami menggambil buras yang paling kecil, lalu kami bagi berdua dengan teman sesama dai, ust. Basuki Rahmat. Namun demikian, bisa dibayangkan, sebelum Dhuhur berkunjung 10 rumah, berarti harus makan sepuluh kali. Begitu pula setelah Dhuhur.

Agar kami bisa menolak halus, setelah Ashar kami pergi. Alasannya pergi ke kota untuk bersilaturahmi dan ketemu teman-teman. Jika tidak, bayangkan satu hari bisa makan 20 kali. Luar biasa.....