Khutbah Jum'at Di Perkampungan Hidayatullah

Perkampungan Hidayatullah tampak dari atas
Perkampungan Hidayatullah memang berbeda dengan kampung lainnya di Tarakan. Nampak suasana Islami begitu masuk perkampungan tersebut. Terletak 8 km Timur kota Tarakan, dengan kiri jalan masih banyak bukit serta pepohonan serta di kanan jalan masih terdapat hutan bakau. Tepatnya di Kelurahan Mamburungan Timur, Kecamatan Tarakan Timur Tarakan.

Perkampungan Hidayatullah terdiri dari satu RW dan tiga RT dengan jumlah KK sebanyak 160 KK. Di depannya ada bangunan pondok yang belum jadi. begitu masuk areal perkampungan, ada masjid besar dengan nama Masjid Jami' Hidayatullah. Disinilah kami khutbah Jum'at, 19/7/2013 dan dilanjutkan dengan mengisi pengajian ibu-ibu Hidayatullah. Masjid dengan halaman dalam seluas 40 x 40 m tersebut mampu menampung jama'ah sebanyak 1000 orang.

Masjid Jami' Hidayatullah
Tampak rumah-rumah berderet. Sementara di samping masjid ada MI Al Fattah Hidayatullah dan di depannya ada TK Roudhotul Atfal dan MTS Al Fattah. Halaman masjid nampak luas. Sementara dalam masjid terasa sejuk dan tenang. Nampak suasana islami di perkampungan tersebut, termasuk wanita-wanita berjilbab dan laki-laki dengan baju koko.

Penghuni mayoritas perkampungan Hidayatullah berasal dari Suku Duri tepatnya dari  desa Salu Kanan, Kec. Balaka Kab. Enrekang, Sulawesi Selatan. "Mayoritas di sini berasal dari Suku Duri", kata Sujadi, sesepuh Hidayatullah yang juga perintis awal suku Duri dan bergabung dengan hidayatullah sejak dari muda.

MI Al Fattah
"Dulu daerah sini masih hutan rimba, lanjutnya. "Saya masuk sekitar tahun 1974. Saat itu bekerja di kayu milik H. Hasan yang juga perintis Hidayatullah disini. Setelah ekspor kayu ke Jepang dilarang, dari kami banyak yang nganggur. Akhirnya kami  meminta tanah kepada kepala desa untuk digarap. Kepala desa mengijinkan, tetapi saat itu Pertamina dan pabrik pengolahan kayu Santaka Jaya melarang", lanjut bapak berputra 13 ini.

"Sementara kayu yang tidak jadi di ekspor sebagian dibakar, sebagai dibuat bangunan", katanya. Menurutnya perintis pertama selain H. Hasan, juga ada Usman Palese, Amin Pahrung dan Muhayudin. Mereka yang membuka perkampungan Hidayatullah sehingga sampai besar hari ini.

Suasana pengajian ibu-ibu Hidayatullah
Tak jauh dari perkampungan Hidayatullah, tiga ratus ke arah selatan terdapat pondok tahfidz Ibnu Abbas milik organisasi Wahdah. Saat kami berkunjung siang hari, pondok nampak kosong. Kata salah seorang santri karena para santri sudah libur, sehingga ke daerahnya masing-masing. "Mereka semua pulang", kata Gufron, salah seorang santri yang juga telah hafal 13 juz selama satu tahun di pondok tahfidz tersebut.

Memang, jika kita berjalan dari kota Tarakan ke arah Mamburungan tempat di mana perkampungan Hidayatullah dan pondok Ibnu Abbas Wahdah berada terdapat beberapa plan yang bertuliskan tanah milik Wahdah yang akan didirikan TKIT dan SDIT Ibnu Abbas. Tidak terlalu sulit mencarinya, karena terdapat balio yang lumayan besar dipinggir jalan menuju arah Mamburungan.
Pondok Tahfidz Ibnu Abbas, Wahdah.
TKIT dan SDIT Ibnu Abbas, Wahdah