Pernik-Pernik Dakwah: Nggak Terbiasa, Pakai Sarung 5 Jam Terasa Risih



Karakter Tarakan memang berbeda dengan daerah lain. Secara umum masyarakatnya terbuka, hal ini tidak lepas karena sebagaian besar adalah pendatang, terutama dari Sulawesi dan Jawa. Daratan yang kecil memang memudahkan untuk dapat mengenal siapapun, termasuk berbagai tokoh, baik tokoh agama, masyarakat maupun pemerintahan.

Secara kultur keagamaan, ada dua kutub besar NU dan Muhammadiyah, walaupun beberapa tempat tidak mau disebut NU atau Muhammadiyah. Tetapi secara amalan masih dekat dengan NU, seperti dzikir, doa, qunut ataupun yang lain. Namun secara umum mereka welcome terhadap pendatang, khususnya dari Jawa.

Papan Hidayatullah dgn latar tambak
Di berbagai tempat, masalah basmalah antara jahr dan sirr cukup sensitif. Banyak masjid, walaupun tidak bisa disebutkan secara data, sensitif ketika tidak menjahr-kan basmalah. Termasuk sensitif dengan bacaan yang makhroj dan tartilnya tidak bagus. Namun, jika kita shalat di tempat yang memakai qunut, kita tidak memakai qunut tidak masalah. Artinya dalam hal perbedaan ini, mereka cukup toleran.

Yang menarik, di Tarakan, ketika di masjid orang terbiasa memakai pakai islami dan rapi. Seperti baju koko, jubah dan sorban yang melingkar di lehernya. Begitupula masalah sarung, mereka terbiasa memakai sarung dengan rapi saat ke masjid. Apalagi sebagai ustadz, pengisi ceramah. Salah satu tuntutan di Tarakan adalah pakaian yang menampakkan –kesyaikhan- yang menunjukkan ke ‘aliman atau keilmuan yang dimiliki.

Begitu pula pengalaman kami. Saat mengisi kami harus pakai sarung, kopyah dan sorban. Satu ketika, mau mengisi khutbah jum’at di masjid perkampungan Hidayatullah, yang menjadi pusat Hidayatullah di Tarakan. Kami pikir, nggak perlu pakai sarung, celana saja apalagi jaraknya agak jauh, sekitar 8 km. Memang, di jalan ketika memakai kopyah, tidak pakai helm tidak ditilang polisi. Tetapi kalau tidak pakai kopyah harus pakai helm, karena tilang mahal, 400 ribu dan tidak ada kompromi.

Mts Al Fattah, di perkampungan Hidayatullah
Teman yang mau mengantar kaget, “Nggak pakai sarung”, katanya. Saya jawab, “Nggak ajalah, kan di Hidayatullah”. Jawab saya. Teman tersebut langsung menjawab, “Iya, masak mau ngisi khutbah Jum’at nggak pakai sarung”, lanjutnya. Akhirnya saya pakai sarung. Saya ceritakan, padahal kalau kami ngisi di Solo, masjidnya juga besar, nggak pernah pakai sarung. Teman tadi heran. Menurutnya, kalau mau ngisi, kalau nggak pakai sarung,  ya pakai jubah dan sorban.

 
Masjid di pondok Wahdah
Setelah mengisi khutbah Jum’at, kami istirahat karena jam 14.00 harus mengisi lagi ibu-ibu. Otomatis masih pakai sarung. Setelah tiba jam 14.00 kami mengisi sampai jam 15.00. Kemudian mampir ke pondok tahfidz Wahdah, baru pulang ke rumah juga masih dalam kondisi pakai sarung, sampai rumah sekitar pukul 16.00. Ternyata, hitung-hitung 5 jam pakai sarung. “Makanya kok terasa risih”, batin saya. Ya, nggak biasa pakai sarung, apalagi sampai 5 jam dari  jam 11.00 sampai jam 16.000. Dasar nggak bakat jadi kyai!  Ada-ada saja.