Karakter Tarakan memang berbeda dengan daerah lain. Secara
umum masyarakatnya terbuka, hal ini tidak lepas karena sebagaian besar adalah
pendatang, terutama dari Sulawesi dan Jawa. Daratan yang kecil memang memudahkan
untuk dapat mengenal siapapun, termasuk berbagai tokoh, baik tokoh agama,
masyarakat maupun pemerintahan.
Secara kultur keagamaan, ada dua kutub besar NU dan
Muhammadiyah, walaupun beberapa tempat tidak mau disebut NU atau Muhammadiyah.
Tetapi secara amalan masih dekat dengan NU, seperti dzikir, doa, qunut ataupun
yang lain. Namun secara umum mereka welcome terhadap pendatang, khususnya
dari Jawa.
| Papan Hidayatullah dgn latar tambak |
Yang menarik, di Tarakan, ketika di masjid orang terbiasa
memakai pakai islami dan rapi. Seperti baju koko, jubah dan sorban yang
melingkar di lehernya. Begitupula masalah sarung, mereka terbiasa memakai
sarung dengan rapi saat ke masjid. Apalagi sebagai ustadz, pengisi ceramah.
Salah satu tuntutan di Tarakan adalah pakaian yang menampakkan –kesyaikhan-
yang menunjukkan ke ‘aliman atau keilmuan yang dimiliki.
Begitu pula pengalaman kami. Saat mengisi kami harus pakai
sarung, kopyah dan sorban. Satu ketika, mau mengisi khutbah jum’at di masjid
perkampungan Hidayatullah, yang menjadi pusat Hidayatullah di Tarakan. Kami
pikir, nggak perlu pakai sarung, celana saja apalagi jaraknya agak jauh,
sekitar 8 km. Memang, di jalan ketika memakai kopyah, tidak pakai helm tidak
ditilang polisi. Tetapi kalau tidak pakai kopyah harus pakai helm, karena
tilang mahal, 400 ribu dan tidak ada kompromi.
| Mts Al Fattah, di perkampungan Hidayatullah |
| Masjid di pondok Wahdah |