Mengenalkan FKAM kepada Persaudaraan Muallaf Se-Kaltara

Pesantren Ramadhan Muallaf
"Kami dai dari Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) Solo", begitu kami memulai perkenalan dengan Persaudaraan Muallaf (PEMAAF) Se-Kaltara, Sabtu, 20/7/2013. "FKAM mengirimkan dai-dai ke berbagai pelosok di Indonesia, termasuk di Tarakan ini. Khusus untuk Tarakan ada 11 dai yang tersebar di berbagai daerah termasuk Nunukan, Berau, Malinao dan Tanah Tidung", kata kami.

Persaudaraan Muallaf adalah perhimpunan para muallaf Se-Kalimantan Utara yang beranggotakan lima kabupaten, yaitu Tarakan, Malinao, Tanah Tidung, Nunukan dan Tanjung Selor. Khusus untuk Tarakan saja beranggotakan lebih dari 600 orang. Ketua Muallaf saat ini adalah Ibu Susiani.

Ceramah dari MUI
Persaudaraan Muallaf selama 3 hari mengadakan pesantren Ramadhan,mulai tanggal 19 - 21 Juli 2013. Pesantren yang diadakan di hotel mewah, Tarakan Plaza Hotel ini dihadiri anggota muallaf dari berabagai kabupaten di Kaltara. Adapun Pesantren Ramadhan kali ini mengambil tema Mempererat persaudaraan muallaf demi memperteguh keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Acara ini kerjasama antara PEMAAF, BAZNAS Dan Departemen Agama.

Pembicara berasal dari berbagai instansi, baik Baznas, MUI, maupun Departemen Agama. Dari Baznas diisi oleh Ust. Syamsi Sarman sekaligus Dewan Ekxekutif BAZ dan ketua PD Muhammadiyah. Dari MUI di isi langsung oleh ketua MUI, KH. Zainuddin Djalila. Sedangkan dari Departemen Agama diisi oleh Ust. Sofyan.

Mengenalkan FKAM
Acara berlangsung menarik. Mereka mengkaji dasar-dasar Islam. Mulai tata cara shalat wajib dan shalat sunah, aqidah islamiyah, zakat, aqiqah dan kurban. Peserta terlihat antusias. Selain karena materi dasar, juga disampai dengan cara dialog.

Kedatangan kami tanpa perencanaan dalam acara yang banyak dihadiri tokoh agama di Tarakan tersebut. Saat itu kami diundang seorang wartawan lokal untuk menghadiri acara tersebut. Ternyata, wartawan tersebut juga sebagai panitia acara.

Kami menyangka akan diajak liputan, sehingga memakai baju biasa tanpa kopyah. Ternyata kami dikenalkan sebagai dai FKAM, walaupun awalnya kurang percaya diri, sementara semua peserta laki-laki memakai baju koko dan kopyah, toh akhirnya kami tetap memperkenalkan diri. Alhamdulillah respon baik. Beberapa peserta meminta kami untuk berkunjung dan bersilaturahmi, termasuk untuk bersilaturahmi ke Departemen Agama Tarakan.
Suasana Pesantren Ramadhan Muallaf Sekaltara