Keluarga adalah pilar utama dalam membentuk generasi
rabbani. Keteguhan seorang ayah dalam membina keluarga menjadi kunci lahirnya
generasi pilihan tersebut. Begitu pula kesungguhan seorang ibu dalam mendidik
anak-anaknya menjadi faktor penentu tumbuh dan berkembangnya generasi rabani.
Keluarga rabani adalah keluarga yang berjalan di atas manhaj
rabbani. Menghiasi dengan ketaqwaan,
menghidupkan sunah-sunah Rasulullah dengan penuh keistiqomahan dan kesabaran. Faktor keluarga ini kemudian didukung dengan
faktor teman yang sholeh, saudara yang baik, lingkungan islami dan rezki yang
halal akan menghantarkan generasi pilihan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah
SAW:
أَرْبَعٌ مِنْ سَعَادَةِ الْمَرْءِ : أَنْ تَكُونَ
زَوْجَتُهُ مُوَافِقَةً ، وَأَوْلادُهُ أَبْرَارًا ، وَإِخْوَانُهُ صَالِحِينَ ،
وَأَنْ يَكُونَ رِزْقُهُ فِي بَلَدِهِ
Artinya:
Empat tanda kebahagian
seseorang; Istri yang sholehah, anak yang baik (sholeh-sholehah), saudara-saudara
yang sholeh dan rezki yang didapat dari
negerinya.
Tarbiyah, Inti
Keluarga Muslim
Tarbiyah menjadi inti lahirnya generasi rabbani. Generasi
Islam pertama lahir karena proses tarbiyah panjang yang dilaksanakan
Rasulullah. Mereka menjadi generasi-generasi pilihan, mercu suar
ditengah-tengah masyarakat. Mereka dididik dengan manhaj rabbani. Menguatkan
aqidah mereka, mendayakan potensi dengan amal nyata, tunduk dan taat terhadap
perintah Allah, serta adanya figur uswatun
hasanah dalam kehidupan mereka yaitu Rasulullah SAW.
Sayyid Quthb mengungkapkan: “Pemeluk agama ini harus
benar-benar mengetahui bahwa agama ini dzatnya adalah rabbani, maka konsep
operasionalnya harus rabbani, berjalan paralel dengan tabiatnya. Dan tidak
mungkin memisahkan agama ini dari konsep operasionalnya. Juga perlu dipahami
bahwa manhaj ini adalah konsep yang sifatnya fundamental, bukan manhaj yang
temporer, geografis ataupun kondisional yang spesifik berkaitan dengan
problem-problem jamaah islam yang pertama. Ini adalah manhaj yang mana bangunan
agama ini tidak akan tegak kapanpun dan dimanapun kecuali harus dibangun
dengannya. Berpegang teguh dengan manhaj tersebut merupakan perkara yang sangat
vital, seperti halnya berpegang teguh pada sistem Islam pada setiap gerakan”.
Allah memerintahkan setiap muslim untuk mentarbiyah diri dan
keluarganya dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Mereka harus mencurahkan segala upaya tanpa henti untuk meluruskan
anak-anaknya, memperbaiki segala kesalahannya serta membiasakan dengan berbagai
amalan kebaikan. Hal ini pula yang ditempuh oleh para Nabi dan Rasul dalam
mendidik anak-anaknya, termasuk apa yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim as.
Keluarga tidak membiarkan anak-anaknya teracuni dengan berbagai
pemikiran menyimpang, karena akan mematikan
tumbuhnya generasi rabbani. Pemikiran menyimpang bisa masuk melalui TV yang ada
di rumah, teman pergaulan, lingkungan atau lainnya. Ibarat seorang petani
–ungkap Imam Al Ghazali dalam Ayyuhal
Walad-, dia harus membuang duri dan mengeluarkan tumbuhan-tumbuhan asing
atau rerumputan yang mengganggu tanaman agar dapat tumbuh dengan baik dan
membawa hasil yang maksimal.
Membentengi anak dari berbagai kemaksiatan sejak dini juga
dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau marah saat melihat Umar bin Khattab
memegang dan membuka lembaran Taurat. Bahkan Beliau mengatakan, “Demi Dzat yang
jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Seandainya Musa berada di antara kalian,
kemudian kamu mengikutinya, pasti kalian akan sesat. Ketahuilah sesungguhnya
kamu adalah bagianku di antara umat-umat yang lain. Dan aku adalah bagian
kalian diantara nabi-nabi yang lain” (HR. Ahmad).
Dalam keluarga, penyimpangan sekecil apapun harus
disingkirkan dan dijauhkan dari anak-anak. Baik dalam pemikiran, sikap maupun
perilaku. Orang tua harus menghilangkan berbagai penyimpangan dan kemungkaran
karena jika dibiarkan akan tumbuh benih-benih yang menggerogoti lahirnya
generasi rabbani. Peran orang tua menjadi penentu terutama seorang ayah.
Contoh nyata sebagai pemimpin rabbani adalah
Rasulullah. Apapun yang dilakukan
tercermin dalam sikap dan perilakunya sebagai uswah. Sementara manhajnya tercermin dalam Al Qur’an dan Sunahnya.
Figur dan konsep yang terbangun dengan baik melahirkan munculnya generasi
pilihan pada masa awal Islam. Tak heran, generasai awal Islam dalah generasi
pilihan yang Allah memujinya sebagai generasi terbaik sepanjang masa.
Lahirnya generasi rabbani sebenarnya menjadi hak anak atas
orang tuanya. Hal ini sebagaimana ungkapan Umar ibn Khattab, ‘Hak seorang anak
yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya,
memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu wanita yang mempunyai kecantikan,
mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga,
berakhlak baik, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi
suami dalam menjaga keadaan’.