Dikira Gempa, Lupa Tidur di atas Laut

Rumah di atas laut
Dakwah di daerah terpencil memang memerlukan bekal tersendiri. Apalagi daerah yang sangat jauh berbeda dari kebiasaan sehari-hari. Inilah yang terjadi saat pertama kami menginjakkan kami di Kelurahan Juata Laut, Tarakan Utara.

Perjalanan sekitar 25 km dari pusat kota memang mengasyikkan. Kanan kiri jalan banyak tebing, juga pohon-pohon yang rindang. Selain jalan yang luas, juga masih suasana laut dan udara yang segar.

Setelah sekitar 45 menit perjalanan dengan sepeda motor dari Tarakan, Kamis, 11/7/2013 kami tiba di masjid Nurul Bahri. Tak terbayang, daerah paling utara dari laut Tarakan.
Suasana rumah yang lain

Di pinggir laut berdiri rumah-rumah terapung. Nampak penduduk sangat sibuk dengan aktivitas pengemasan udang. Namun, saat adzan untuk shalat, masyarakat berbodong-bondong ke masjid Nurul Bahri. Ini menandakan keislaman mereka yang cukup baik.





Rumah yang tempat kami tinggal

Yang menarik, saat pertama kami tidur, kami merasa ada goncangan gempa. Sesaat kami terbangun. Kami lihat kiri kanan tidak ada yang bangun. Bahkan penghuni rumah tidur dengan nyenyak.

Setelah beberapa saat, kami baru sadar kalau kami tidur di rumah terapung. Sehingga wajar saat air naik, seperti ada gempa. Ya, pengalamanan yang menarik dan menggelikan!