| Abdul Hamid, dengan latar belakang tambak miliknya |
Sabtu, 13/7/2013, kami di ajak berkeliling dengan perahu kecil dan mesin sederhana. Saat kami akan naik, perahu tersebut bergoyang, kami sempat khawatir, tapi akhirnya dengan bismillah kami naik dan melakukan perjalanan dengan perahu tersebut. Perjalanan menempuh jarak sekitar 4 km dari pinggir laut, akhirnya kami sampai tambak milik Pak Abdul Hamid, pendatang asal Sulawesi Selatan tersebut.
| Setelah melewati laut, masuk sungai di hutan |
Perahu bersandar di gubuk kecil. Di tengah hutan, di atas sungai. Ada seorang penjaga, tanpa lampu. "Setiap selesai bekerja, kami mulai membuka lahan. Dulu tempat ini masih banyak pohon bakaunya, tinggi-tinggi. Ular-ular masih besar, bahkan buaya juga banyak. Saat kami membawa anjing, selalu dimakan buaya, terutama malam hari. Tapi alhamdulillah, kami tidak pernah diganggu", lanjutnya.
Sambil menunjukkan tempat tambak miliknya yang sangat terpencil, dari laut perjalanan kami harus masuk melalui sungai yang penuh dengan pohon-pohon besar, ia mengisahkan. "Pohon-pohon di sungai itu juga banyak ularnya bergelantungan". Kami agak terkejut. "Apakah sekarang masih juga pak", tanya kami. 'Iya tapi sudah jarang. begitu pula dengan buaya, kadang masih ada".
| Kepiting, hasil sampingan tambak |
Perlu diketahui, tambak milik Pak Abdul Hamid seluas 10 H. Tiap tiga bulang sekali menghasilkan udang dan kepiting minimal 150 km secara alami. Padahal menurutnya, sekarang harga kepiting besar dengan jumlah 4-5 biji/kg seharga 100 ribu. Sementara udang ukuran besar untuk ekspor dengan jumlah 15 biji/kg seharga sekitar 140 ribu.