| Ust. Harno, Dai FKAM di Tarakan |
Pengalaman dakwah memang berbeda satu dengan yang lain. Dari 11 dai FKAM yang dikirim ke Tarakan pada Ramadhan tahun 1343H ini, Ust. Harno salah satunya. Ia di kirim ke masjid Nurul Bahri, daerah Tarakan paling utara, tepatnya di pinggir laut kelurahan Juata Laut, Tarakan Utara.
"Sebelum di kirim ke daerah Juata Laut, kami disinggahkan dulu oleh Ust. Abdullah di Tarakan", katanya. Malamnya kami disuruh mengisi di masjid Nur Islam, Markoni, Selasa, 9/7/2013. Masjidnya cukup Besar. Terletak di tengah kota dengan jamaah
shalat Subuh hampir 350 putra 50 putri. Dilihat dari pakaian yang dikenakan jamaah, nampak mereka cukup memahami Islam. Minimal mereka termasuk orang-orang yang sudah mendalami Islam. Banyak yang memakai jubah.
Adzannya cukup merdu. Begitu imam membacakan ayat-ayat Al Qur'an ust. Harno sempat minder, bahkan nggak percaya diri. "Bagaimana kami akan mengisi kultum, sementara bacaan saya sangat jauh dari bacaan imam", ungkapnya.
Sebelum sholat di mulai salah satu pengurus masjid
maju mengumumkan kepada jama'ah untuk kultum akan di isi ustadz Suharno dari Jawa. "Waktu itu
deyut jantung saya berdetak cepat, semakin cepat
tatkala shalat Subuh", tambahnya.
"Akhirnya, saya maju, saya jelaskan tentang nikmat yang banyak dilupakan manusia, yaitu nikmat iman dan nikmat sehat. Saya lihat, banyak jama'ah yang mendengar dengan khusyu'. Bahkan mereka ada yang mengangguk-anggukkan kepala. Tanpa terasa 10 menit berlalu, akhirnya saya perpanjang sedikit, hampir 15 menit. Begitu selesai, alhamdulillah, sambutannya luar biasa. Bahkan saya dirangkul sambil mengucapkan bagus, menyentuh isiannya. Subhanallah, jawab saya. Itulah, pengalaman pertama dakwah Ramadhan di Tarakan." Begitu Ust. yang memiliki 5 anak ini mengakhiri kisahnya.