| Ust. Yasir, paling kanan |
Dari Tarakan ditempuh dengan naik speadboad selama 3 jam. Setelah turun dari pelabuhan, ia harus melanjutkan perjalanan lagi menuju tempat tugas dengan perjalanan darat selama 3 jam. Jalan bergelombang, naik turun seperti daerah pegunungan. Kiri kanan banyak hutan. Naik mobil serasa naik gerobak.
"Alhamdulllah, masyarakatnya baik. Ia menerima dengan baik. Bahkan sosialnya tinggi. Begitu datang, kami langsung diberi uang untuk operasional harian", ungkapnya.
"Mushola yang kami tempati belum ramai, kadang memang ada beberapa jamaah masjid, namun kadang sepi. Shalat Dhuhur dan Ashar hampir tidak ada orang karena kebanyakan mereka bekerja di pertanian dan pertambangan", katanya.
"Hal menarik bagi kami, disini banyak mualaf. Mereka masih baru belajar Islam. Makanya kami berusaha mendekati mereka untuk memberikan pemahaman Islam yang benar", jelasnya.
Ust. Yasir di Malino Selatan selain sebagai imam dan petugas kultum, juga berusaha untuk membimbing masyarakat dengan mengajari membaca Al Qur'an metode Tsaqifa. Selain itu juga mulai memperkenalkan Muri-Q. "Alhamdulillah, mereka mau menerima dengan senang hati", pungkasnya.